Yang bikin lebih rumit, kita kadang gak tahu bahwa makanan yang kita makan sehari-hari punya kandungan lemak tinggi, karena nggak semua makanan cepat saji mencantumkan label gizi secara lengkap.
Bagaimana Analisis Pangan Membantu?
Analisis pangan memungkinkan kita mengukur secara tepat berapa banyak lemak yang ada dalam makanan, termasuk fast food. Salah satu metode yang umum digunakan dalam menganalisis lemak adalah ekstraksi soxhlet sebuah teknik laboratorium yang memungkinkan untuk mengetahui secara presisi berapa banyak lemak yang terkandung dalam suatu sampel makanan.
Dikutip dari jurnal Pargiyanti (2019), bahwa proses ini melibatkan pelarut organik seperti petroleum eter atau heksana, yang dapat melarutkan lemak dari sampel padat seperti kentang goreng atau ayam goreng.
Hasilnya kemudian ditimbang untuk menentukan persentase kadar lemaknya. Misalnya, jika dari 5 gram sampel kentang goreng ditemukan 1,5 gram lemak, maka kadar lemaknya adalah 30%.
Dari angka itu, kita bisa bandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan. Ini bisa menjadi informasi penting baik untuk konsumen maupun produsen.
“Lemak Tersembunyi” Itu Nyata Penelitian menunjukkan bahwa makanan yang digoreng dalam suhu tinggi, apalagi dengan minyak yang dipakai berkali-kali, bisa mengandung lemak trans jenis lemak paling berbahaya karena bisa menaikkan kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL).
Menurut data yang dipublikasikan dalam International Journal of Food Sciences and Nutrition, fast food seperti kentang goreng, donat, dan ayam goreng bisa menyumbang hingga 35-50% dari kebutuhan lemak harian, bahkan dalam satu kali makan.