DISTRIKBANTENNEWS.COM - Coba bayangkan: Anda baru saja memesan ayam goreng krispi dari restoran cepat saji. Dibalut tepung renyah, hangat mengepul, dan tentu saja rasanya gurih luar biasa.
Mungkin anda juga menambahkan kentang goreng. Rasanya?
Surga di mulut. Tapi, pernah nggak anda bertanya-tanya, sebenernya ada berapa banyak minyak yang masuk ke tubuh kita dari makanan itu?
Di sinilah analisis pangan mengambil peran penting. Ilmu ini nggak cuma dipakai di laboratorium, tapi juga jadi senjata utama buat tahu apa yang sebenarnya kita makan setiap hari.
Termasuk, kandungan lemak yang tersembunyi dalam makanan yang kelihatannya “baik-baik saja”.
Fast Food dan Lemak: Hubungan yang Tak Terpisahkan
Makanan cepat saji memang dibuat untuk praktis, enak dan bikin ketagihan. Tapi di balik semua itu, fast food sering kali mengandung lemak dalam jumlah tinggi, bahkan ada yang tidak terlihat atau tidak kita sadari.
Lemak ini bisa berasal dari minyak goreng yang digunakan berulang kali, mentega dalam adonan, hingga bahan tambahan seperti keju dan saus yang creamy. Masalahnya, lemak tidak selalu jahat, tapi lemak berlebih terutama lemak jenuh dan lemak trans bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, kolesterol tinggi, obesitas, dan diabetes.