Fokus terbaik bagi setiap kader saat ini adalah menyalakan dan memperbesar obor pengabdian masing-masing melalui karya nyata di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.
Jika setiap madrasah, setiap pengurus daerah, dan setiap badan otonom berlomba-lomba memperterang cahaya obornya, maka akumulasi cahaya tersebut akan mengusir kegelapan dan menerangi seluruh tubuh organisasi.
Langkah strategis berikutnya yang tidak kalah krusial dalam transformasi ini adalah keberanian untuk keluar dari belenggu psikologis "Menes Sentris". Kita tentu sangat menghormati Menes sebagai tanah suci tempat ari-ari organisasi ini ditanam, sebuah pusat spiritual yang memori historisnya akan selalu kita rawat dengan takzim.
Namun, untuk menjadi kekuatan global, Mathla’ul Anwar harus memperluas cakrawala pandangnya, merambah ruang-ruang nasional dan internasional secara masif.
Kita harus memastikan bahwa struktur kepengurusan, jangkauan program kerja, dan pengaruh pemikiran organisasi tidak lagi bercorak lokal, melainkan mampu mewarnai kebijakan publik di tingkat nasional serta berkontribusi dalam diskursus perdamaian dunia di level global.
Komitmen untuk menjadi organisasi yang kosmopolitan menuntut keterbukaan kita untuk berkolaborasi dengan berbagai elemen strategis, baik pemerintah, swasta, maupun dunia internasional.
Jaringan sekolah dan perguruan tinggi Mathla’ul Anwar harus mulai beradaptasi dengan standar global, melahirkan riset-riset yang berdampak, dan membangun kemitraan internasional.
Transformasi mekanisme pemilihan pengurus lebih khusus calon Ketua Umum di berbagai tingkatan melalui sistem musyawarah adalah modal politik yang sangat berharga.