Jika kita menengok kembali lembar sejarah, Mathla’ul Anwar lahir di Menes Pandeglang pada 10 Syawal 1334 Hijriah, bertepatan dengan 10 Agustus 1916 Masehi.
Didirikan oleh para ulama agung seperti KH Moh. Tb. Soleh, Kiai Entol, H Moh. Yasin, Kiai Tegal, KH Abdul Mu’ti, KH Soleman Cibinglu, KH Daud, KH Rusydi, E. Danawi, KH Mustagfiri, Ki Mas Abdurrahman, dan para kiai lainnya, lembaga ini berdiri sebagai respons profetik terhadap kebodohan dan penindasan kolonial.
Nama Mathla’ul Anwar sendiri yang secara harfiah bermakna tempat terbitnya cahaya bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan sebuah doa kosmologis agar organisasi ini senantiasa memancarkan fajar pencerahan ke seluruh penjuru bumi.
Lahir dari rahim kultur kepesantrenan, gerakan ini sejak awal telah meletakkan landasan khittah perjuangan yang mandiri, lurus, dan tidak terafiliasi pada kekuatan politik praktis mana pun.
Khittah Mathla’ul Anwar tersebut dimanifestasikan secara konkret melalui pergerakan Tiga Pilar utamanya, yakni Pendidikan, Dakwah, dan Sosial. Pilar pendidikan mewujud dalam ribuan madrasah dan sekolah yang tersebar dari hulu hingga hilir, menjadi kawah candradimuka bagi anak-anak bangsa yang mendambakan ilmu pengetahuan.
Pilar dakwah bergerak merawat moralitas umat melalui mimbar-mimbar yang sejuk, inklusif, dan berorientasi pada paham Ahlussunnah Wal Jama’ah. Sementara pilar sosial menjadi bukti keterlibatan aktif organisasi dalam mengentaskan kemiskinan, merawat anak yatim, dan hadir secara nyata di tengah bencana yang menimpa masyarakat.
Ketiga pilar ini adalah satu kesatuan pergerakan yang tidak boleh dipisahkan, menjadi kaki-kaki kokoh yang menopang eksistensi organisasi selama seratus sepuluh tahun perjalanan sejarahnya.
Namun, kejayaan masa lalu tidak boleh membuat kita terlena dalam romantisme sejarah yang statis dan menjebak nalar kritis kita. Guna menyongsong tantangan zaman yang kian kompleks, Mathla’ul Anwar harus berani melakukan lompatan kuantum untuk "Naik Level" dalam segala lini manajerialnya.