Tokoh Abunawas dalam sebuah kisah populer menyoroti makna puasa yang lebih dalam. Ia menilai puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga.
Abunawas mengamati perilaku orang-orang di pasar pada siang bulan Ramadan. Ia melihat adanya kontradiksi antara ibadah fisik yang dijalani dengan kondisi batin mereka.
Di tengah keramaian pasar, Abunawas menyaksikan perdebatan sengit dan kata-kata kasar. Banyak wajah masam terlihat di antara para pengunjung.
Beberapa pedagang juga tampak berbohong mengenai kualitas dan harga barang dagangan. Mereka bahkan mengakali takaran timbangan demi mendapatkan keuntungan lebih.
Melihat fenomena tersebut, Abunawas tersenyum tipis dan berujar lirih. Ia kemudian berlalu dengan perasaan miris.
"Yang lapar perutnya, tetapi yang kenyang egonya," kata Abunawas.
Kalimat ini mengajak setiap orang untuk bercermin. Puasa seringkali hanya dijalani sebatas yang tampak secara lahiriah.
Perut dikosongkan, namun hati dibiarkan penuh amarah, kesombongan, dan keinginan untuk menang sendiri. Kisah Abunawas ini masih relevan dengan kehidupan masa kini, terutama setiap Ramadan.