Perayaan Idulfitri menjadi momentum penting untuk mengembalikan kesadaran akan hakikat sosial manusia. Manusia pada dasarnya tidak dapat hidup sendiri di tengah laju modernisasi yang pesat.
Kemajuan teknologi saat ini memungkinkan berbagai aktivitas dilakukan secara instan. Mulai dari bekerja, berbelanja, hingga berkomunikasi, semua bisa diakses hanya melalui gawai.
Namun, di balik kemudahan tersebut, ada kenyataan mendasar bahwa manusia adalah makhluk sosial. Manusia selalu membutuhkan kehadiran serta peran orang lain dalam kehidupannya.
Hakikat sosial ini bukan sekadar konsep teoritis, melainkan realitas yang terlihat sehari-hari. Sejak lahir, manusia sudah bergantung pada orang lain, seperti bayi yang butuh bantuan orang tua untuk bertahan hidup.
Ketergantungan ini terus berlanjut hingga dewasa dalam berbagai bentuk. Seseorang membutuhkan rekan kerja, interaksi dengan tetangga dan komunitas, bahkan mempertimbangkan pandangan orang lain dalam pengambilan keputusan.
Di era modern, nilai-nilai kebersamaan sering tergerus oleh meningkatnya individualisme. Banyak orang lebih fokus pada pencapaian pribadi, ambisi karier, dan kepentingan diri sendiri.
Interaksi sosial pun mengalami pergeseran dari bersifat langsung menjadi serba digital. Media sosial memang memperluas jaringan pertemanan, namun tidak selalu menghadirkan kedekatan emosional yang mendalam.
Akibatnya, tidak sedikit individu yang merasa kesepian meskipun terhubung dengan banyak orang secara virtual. Fenomena ini membuktikan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan koneksi, tetapi juga kehadiran nyata dalam hubungan sosial.
Setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan, umat Muslim merayakan Idulfitri sebagai hari kemenangan.
***