DISTRIKBANTENNEWS - Di balik senyum dan tingkah lincah anak-anak Indonesia, tersembunyi ancaman stunting yakni sebuah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang tak hanya membatasi tinggi badan, tetapi juga menghambat perkembangan otak dan masa depan mereka.
Mirisnya, Indonesia masih tercatat sebagai salah satu negara dengan angka stunting tertinggi di Asia Tenggara. Data SSGI 2021 menunjukkan, meskipun terjadi prevelensi penurunan dari 27,67% di tahun 2019 menjadi 24,4% di tahun 2021, angka ini tetap jauh di atas batas aman WHO sebesar 20%.
Artinya, satu dari empat anak Indonesia masih berjuang melawan stunting.
Namun, harapan baru muncul dari solusi tak terduga. Siapa sangka, makanan sederhana seperti bihun, yang selama ini hanya dianggap sebagai pelengkap masakan dan sering terselip dalam semangkuk sayur sop anak-anak, bisa menjadi senjata ampuh dalam upaya mengatasi stunting melalui biofortifikasi bihun yang diperkaya sumber protein seperti tepung tulang ikan patin.
Bihun Fortifikasi dengan Tepung Tulang Ikan Patin
Tulang ikan patin, yang selama ini hanya dianggap sebagai limbah dari proses fillet, ternyata kaya kana nutrisi essensial seperti kalsium, fosfor, dan protein kolagen yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang dan jaringan pada anak. Melalui proses fortifikasi, tulang ikan patin diolah menjadi tepung halus dan difortifikasikan ke dalam bihun, mengubahnya dari sekadar sumber karbohidrat menjadi makanan fungsional anti-stunting.
Hasilnya? Bihun yang biasanya hanya mengenyangkan, kini juga menyehatkan.
Penelitian menunjukkan bahwa bihun dengan penambahan 10-15% tepung tulang ikan patin memiliki kadar kalsium 40% lebih tinggi dibandingkan bihun biasa, tanpa mengganggu rasa atau tekstur. Keistimewaan bihun fortifikasi ini tak berhenti pada bahan bakunya saja.