Selain itu, kurangnya pengawasan dan perhatian dari orang tua juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Banyak orang tua yang mungkin sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak mengetahui aktivitas anaknya di luar rumah.
Ada pula yang mengetahui, tetapi memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkan, dengan alasan “namanya juga anak laki-laki” atau “nanti juga berhenti sendiri”. Pola pikir seperti ini justru memperkuat kebiasaan buruk tersebut.
Tidak kalah penting adalah peran masyarakat. Fenomena siswa merokok di tempat umum seringkali disaksikan oleh banyak orang, namun jarang ada yang menegur.
Mungkin karena merasa bukan tanggung jawabnya, atau khawatir menimbulkan konflik. Akibatnya, siswa merasa tidak ada konsekuensi sosial dari perbuatannya. Ketika tidak ada teguran, tidak ada rasa malu, maka perilaku itu akan terus berulang.
Dalam konteks ini, kita perlu melihat masalah secara lebih menyeluruh. Menyalahkan sekolah semata tidak akan menyelesaikan persoalan. Diperlukan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Sekolah tetap harus memperkuat pendidikan karakter dan memberikan pemahaman tentang bahaya merokok, bukan hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga dari sisi moral dan tanggung jawab sebagai pelajar.
Di sisi lain, orang tua perlu lebih hadir dalam kehidupan anak, tidak hanya secara fisik tetapi juga emosional. Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak dapat menjadi benteng yang kuat dalam mencegah perilaku negatif.
Orang tua juga perlu memberikan contoh yang baik, karena anak cenderung meniru apa yang mereka lihat di rumah. Sementara itu, masyarakat juga memiliki peran penting sebagai lingkungan sosial tempat anak tumbuh.