"Mahasiswa yang bergantung pada KIP Kuliah tidak hanya kehilangan jaminan pendidikan, tetapi juga kepercayaan terhadap komitmen negara dalam mendukung generasi muda. Jika negara benar-benar menganggap pendidikan sebagai investasi, mengapa mereka enggan menanamkan modal?"
Ketidakpastian ini menimbulkan efek domino. Mahasiswa yang seharusnya fokus pada studi mereka kini harus mencari alternatif, mulai dari mencari pekerjaan tambahan hingga mempertimbangkan untuk berhenti kuliah.
Situasi ini membuat generasi lebih rentan. Mereka berisiko putus sekolah, menganggur, dan terjebak dalam kemiskinan.
Mengapa Pendidikan Masih Dianggap Beban?
Negara-negara maju memahami bahwa pendidikan bukanlah pengeluaran, melainkan investasi. Finlandia menggratiskan pendidikan tinggi.
Mereka tahu setiap euro yang dihabiskan akan kembali. Dana itu kembali dalam bentuk tenaga kerja berkualitas dan ekonomi yang lebih kuat.
Di Indonesia, kita juga sering mengatakan bahwa pendidikan adalah investasi.Namun, jika itu benar, mengapa kita selalu menganggapnya beban anggaran? Mengapa kita terus menguranginya setiap kali situasi ekonomi berubah?
Ini bukan sekadar pertanyaan akademis. Ini adalah pertanyaan yang menentukan masa depan kita sebagai bangsa.
Di negara ini, kita memiliki banyak ujian—ujian nasional, ujian masuk perguruan tinggi, ujian skripsi. Tetapi ada satu ujian yang lebih besar dan lebih penting: ujian bagi pemerintah dan masyarakat dalam memperlakukan pendidikan.