Praktik bullying di lingkungan pendidikan hingga hari ini masih menjadi persoalan serius yang sulit dihilangkan. Fenomena ini seakan terus berulang, bahkan dalam bentuk yang semakin kompleks seiring perkembangan zaman.
Dari ejekan verbal yang dianggap “candaan”, tindakan pengucilan, hingga kekerasan fisik yang nyata, bullying telah menjelma menjadi ancaman nyata bagi tumbuh kembang peserta didik.
Ironisnya, dalam beberapa kasus, bullying tidak hanya meninggalkan luka psikologis mendalam, tetapi juga berujung pada hilangnya nyawa korban. Kondisi ini jelas menjadi lampu merah bagi dunia pendidikan.
Sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman untuk belajar dan bertumbuh justru terkadang menjadi ruang yang menakutkan bagi sebagian siswa.
Hal ini menandakan adanya krisis karakter yang semakin nyata, di mana nilai-nilai adab, empati, dan rasa saling menghargai mulai terkikis. Generasi muda yang seharusnya dibekali dengan akhlak mulia, justru terjebak dalam perilaku yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Salah satu faktor utama yang membuat bullying sulit diberantas adalah lingkungan. Anak-anak tidak tumbuh dalam ruang kosong. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan alami setiap hari.
Ketika lingkungan keluarga kurang memberikan teladan yang baik, seperti komunikasi yang kasar, kekerasan verbal, atau bahkan fisik, maka anak cenderung meniru perilaku tersebut.