Kita boleh saja kecewa kepada penguasa yang zalim. Kita boleh mengkritik pemerintah yang haus akan kekuasaan. Kita boleh marah kepada mereka yang menggunakan jabatan bukan untuk mengabdi, melainkan untuk memperkaya diri, mempertahankan kepentingan kelompok, atau membungkam suara-suara yang berbeda.
Kita boleh tidak setuju dengan kebijakan yang dianggap merugikan rakyat. Kita juga berhak mempertanyakan keputusan para pemegang kekuasaan ketika kebijakan tersebut jauh dari rasa keadilan. Kritik bukanlah pengkhianatan. Menyampaikan kekecewaan bukan berarti membenci negeri sendiri. Justru dalam banyak keadaan, keberanian untuk mengkritik merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa.
Namun, ada satu hal yang harus kita bedakan. Jangan pernah membenci bangsa hanya karena kita kecewa kepada orang-orang yang sedang memegang kekuasaan.
Sebab bangsa dan penguasa bukanlah dua hal yang selalu sama.
Pemerintah dapat berganti. Penguasa dapat datang dan pergi. Jabatan memiliki batas waktu. Kekuasaan dapat berpindah tangan. Mereka yang hari ini berada di singgasana kekuasaan, suatu hari akan kembali menjadi bagian dari masyarakat biasa. Tetapi bangsa ini tetap ada. Tanah air ini tetap menjadi rumah. Sejarah perjuangan tetap menjadi bagian dari identitas kita.
Indonesia tidak lahir dari keserakahan segelintir orang.
Bangsa ini lahir dari rasa cinta.
Ia tumbuh dari pengorbanan para pendahulu yang rela kehilangan harta, keluarga, kenyamanan, bahkan nyawa demi sebuah cita-cita: hidup sebagai bangsa yang merdeka. Kemerdekaan tidak diberikan secara cuma-cuma. Ia dibayar dengan darah, air mata, pengorbanan, dan keberanian orang-orang yang mungkin namanya tidak pernah kita kenal.