Selain itu, LEM ini juga mengelola sistem peternakan domba dan menggunakan kotoran hewan sebagai pupuk kompos trichoderma. Ini tidak hanya memberikan pupuk alami untuk lahan mereka tetapi juga menjadi sumber pendapatan tambahan.
LEM Tri Sanghyang juga melibatkan generasi muda dalam pembentukan Kelompok Petani Muda. Sekitar 20 orang yang tergabung dalam kelompok ini telah dilatih untuk mengolah kopi menjadi siap saji.
Mereka telah memproduksi ratusan kintal kopi kemasan per tahun dan mendistribusikannya ke berbagai agen di berbagai daerah.
Kedai kopi yang Instagramable ini juga melibatkan ibu-ibu rumah tangga dalam pembentukan Kelompok Wanita Tani (KWT). Sekitar 26 ibu rumah tangga berperan sebagai juru masak di Imah Kopi Gunung Karang.
Kedai ini melayani ratusan pengunjung setiap hari dan jumlahnya meningkat pada akhir pekan atau hari libur. Selain menyajikan kopi dengan berbagai olahan, di sini juga terdapat display produk dan informasi tentang kopi yang akan menjadi cikal bakal museum kopi Banten di masa depan.
(her/red)