Tine menuturkan, pelatihan itu menjadi salah satu upaya yang dilakukan dalam menjaga dan melestarikan budaya. Lantaran pelatihan itu menyasar pada generasi muda.
"Ini juga sebagai pelestarian budaya, karena ini diturunkan kepada generasi muda dan diharapkan nantinya kedepan ini bisa melahirkan motif-motif baru. Tentunya yang sesuai dengan ketentuan adat yang ada," imbuhnya.
Sementara, Sekjen Dekranas yang juga Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian RI Reni Yanita berharap dengan pelatihan ini, para peserta memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) pada saat bertenun. Sehingga dapat meningkatkan kualitas produk.
"Mungkin dulunya mereka secara otodidak, tapi dengan adanya pelatihan ini mereka dapat mengetahui SOP, mulai dari pemilihan benang dan lainnya," ujarnya.
Pada kesempatan itu, dirinya juga berpesan kepada para peserta untuk dapat mengikuti pelatihan dengan baik, dan diharapkan setelah pelatihan tersebut untuk dilakukan monitoring guna memastikan perkembangan yang diterapkan masyarakat pegiat tenun Baduy.
"Apalagi Ini kan sudah difasilitasi Dekranasda Provinsi Banten, Kabupaten Lebak dan kita juga ada monitoring," katanya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten Babar Suharso menyampaikan dalam kegiatan PKW Bidang Keterampilan tenun Baduy diikuti 80 orang penenun masyarakat Baduy, dan untuk setiap penenun mendapatkan bantuan berupa alat tenun dan benang.
“Mereka akan mengikuti pelatihan ini selama 35 hari yang meliputi teknik pemasaran, pengenalan marketplace online, peningkatan kualitas produk, sampai sumber pembiayaan dari perbankan yang bisa mereka akses,” tandasnya.
Penyunting : Mardiana