Profile

Jejak Sang Patriot Bangsa Seorang Anak Nelayan dari Balige

Jakarta – Pagi hari di Balige, 3 Juli 1920. Kabut tipis masih menggantung di atas Danau Toba ketika Manonga Napitupulu dilahirkan dari keluarga sederhana. Ayahnya, A. Panggalak Napitupulu, seorang nelayan danau, menggantungkan hidup pada air yang tenang namun kerap tak ramah. Dari rahim kehidupan pinggiran inilah Manonga tumbuh, tetapi kelak justru masuk ke jantung sejarah republik.

Nama Manonga bukan sembarang nama. Ia diambil dari leluhur “Manonga Langit” setelah sang ayah meminta izin para sesepuh kampung. Sebuah isyarat bahwa bocah ini dipikul dengan harapan, meski hidup keluarga Napitupulu jauh dari berlebih. Sejak kecil, Manonga dikenal cakap berhitung. Namun kecakapan saja tak cukup. Ketika orang tuanya tak mampu membiayai pendidikan ke Hollandsch-Inlandsche School, jalan Manonga nyaris buntu. Nasibnya berbelok lewat rekomendasi seorang pejabat lokal, yang membukakan pintu ke Gouvernement School di Balige.

Bahasa Belanda pelan-pelan dikuasainya. Dari Schakelschool Sonakmalela hingga Kadasterschool di Bandung, Manonga menempuh pendidikan dengan satu bekal utama: ketekunan. November 1939, ia meninggalkan Balige menuju Batavia, lalu ke Bandung. Di kota inilah ia menamatkan Kadasterschool pada 1942 dengan nilai terbaik. Tapi sejarah punya cara sendiri mengacak rencana manusia.

Pendudukan Jepang merampas pekerjaannya di kantor agraria. Manonga turun ke Pasar Senen, berjualan emping demi mengirim uang ke kampung. Dari meja pasar ke barak militer, itulah lompatan hidup berikutnya. Atas saran kawan-kawannya, ia mendaftar ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) bentukan Angkatan Laut Jepang. Ia diterima, dilatih, dan dikirim ke laut sebagai mualim. Di sanalah disiplin, komando, dan naluri kepemimpinan ditempa.

Ketika Jepang runtuh, Manonga tidak menunggu sejarah berjalan sendiri. Bersama para lulusan SPT, ia merebut senjata dan instalasi pertahanan. Pada 10 September 1945, Badan Keamanan Rakyat Laut dibentuk. Manonga termasuk perwira yang dikirim ke Sumatra—wilayah luas dengan garis pantai panjang, tapi kekuatan laut nyaris nol.
Dari Lampung ke Sumatra Timur, Manonga membangun dari nol. Ia sempat pulang ke Balige. Orang tuanya berharap ia menetap, memimpin desa. Manonga menolak. Republik yang baru lahir lebih mendesak dari kampung halaman. BKR Laut Sumatra Timur berdiri, lalu bertransformasi menjadi TRI Laut dan akhirnya ALRI. Manonga naik pangkat cepat bukan karena intrik, tapi karena situasi perang tak memberi ruang bagi keraguan.

Di tengah perang, hidup pribadi tak menunggu damai. Ia menikahi Mutiara Tua Batubara pada 8 Mei 1947, ia datang hanya beberapa jam sebelum akad. Tiga hari kemudian, ia kembali ke medan tugas. Dari hutan Hengelo, pasukannya bergerilya melawan Belanda. Ketika revolusi usai pada Desember 1949, Manonga keluar dari rimba dengan kurus, letih, tapi republik berdiri.

Karier militernya berlanjut dari Sabang, Surabaya, Jakarta, hingga Makassar. Ia memimpin kapal, pangkalan, dan wilayah maritim strategis. Saat pemberontakan Permesta mengguncang Sulawesi, Manonga berada di garis depan operasi pemulihan. Pada 1959, ia diangkat menjadi Komandan Komando Daerah Maritim Makassar, sebuah jabatan penting di kawasan rawan.

Politik lalu memanggil. Presiden Soekarno menunjuknya menjadi anggota DPR-GR dan MPRS. Di Senayan, Manonga duduk di Komisi Produksi, sebuah ironi bagi seorang pelaut yang lebih akrab dengan dek kapal daripada ruang sidang. Namun ia tetap menjalankan tugas. Bersamaan, ia menjabat Kepala Operasi TNI AL dan terlibat dalam Operasi Jayawijaya untuk Irian Barat, operasi yang akhirnya tak jadi ditempuh karena diplomasi menang lebih dulu.

Pendidikan militernya membawanya hingga Uni Soviet. Ia pulang pada 1963 dengan pangkat kolonel. Dua tahun kemudian, ketika Indonesia diguncang peristiwa 30 September, Manonga menjabat Wakil Kepala Staf Komando Pertahanan Antar Daerah Sumatera. Ia memimpin penumpasan gerakan tersebut di wilayahnya, sebuah babak kelam yang menandai perubahan arah republik.

Pangkat bintang satu disematkan pada 1968. Ia memimpin kawasan maritim Barat, lalu Kalimantan. Saat Golkar membutuhkan figur militer untuk kampanye, namanya disebut. Bahkan istrinya sempat diusulkan maju ke DPR. Manonga menolak. Politik, baginya, cukup dijalani sebatas tugas negara.

Ia pensiun pada 1973. Dunia sipil tak sepenuhnya ramah. Ketika diminta duduk di jajaran direksi perusahaan yayasan Angkatan Laut, Manonga memilih mundur karena tak tahan pada kolusi dan penggelembungan dana. Ia kembali ke hidup sederhana.

Tahun 1997, leukemia merenggut sisa tenaganya. Upaya mencari bantuan dana perawatan terlambat. Pada 19 Februari 1998, Manonga Napitupulu wafat beberapa bulan sebelum Orde Baru runtuh. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, dengan upacara militer. (**)

Namanya kini menjadi nama jalan di Pandan, Tapanuli Tengah. Jejaknya lebih panjang dari itu: seorang anak nelayan yang memilih laut sebagai jalan pengabdian, dan republik sebagai tujuan akhir. (**)

Related Posts

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *