Rabin Pendekar Golok Tjiomas: Antara Kisah Komik dan Jejak Sejarah Jawara Batuceper
Dunia perkomikan Indonesia era 1970-an tidak hanya melahirkan cerita fiksi ilmiah dan pendekar khayalan. Di tangan para kreator jenius masa lalu, cerita tutur rakyat (folklore) dan tokoh nyata sering kali diangkat ke dalam lembaran cergam (cerita bergambar) sebagai bentuk dokumentasi budaya yang hidup. Salah satu bukti autentik paling berharga dari fenomena ini adalah komik klasik berjudul "Rabin Pendekar Golok Tjiomas".
Siapa sangka, tokoh utama dalam komik silat Nusantara ini bukanlah karakter rekaan semata, melainkan sosok yang diduga kuat terinspirasi dari seorang jawara legendaris nyata dari tanah Tangerang.
Sosok Nyata Sang Jawara: Rabin dari Batuceper
Jejak fisik sang tokoh sejarah terpahat jelas pada sebuah batu nisan makam kuno di wilayah Batuceper, Tangerang. Pada nisan tersebut tertulis nama RABIN BIN AMAT. Tokoh legendaris ini tercatat wafat pada tanggal 1 Agustus 2003.
Hal yang paling mencengangkan dari bukti fisik makam tersebut adalah catatan usianya. Tertulis bahwa Rabin bin Amat wafat dalam usia 115 tahun. Angka harapan hidup yang luar biasa panjang ini menandakan bahwa ia adalah saksi hidup lintas zaman—mengalami kerasnya era kolonial Belanda, pendudukan Jepang, masa revolusi kemerdekaan, hingga memasuki abad ke-21. Dalam memori kolektif masyarakat lokal, ia dikenal sebagai jawara tangguh yang cerdik, lincah, dan selalu berpihak pada rakyat kecil.
Hubungan Tokoh Komik dan Tokoh Nyata
Tokoh Rabin dalam komik kemungkinan besar diangkat dari kisah nyata, lalu cerita, tempat, nama keluarga, dan beberapa peristiwanya diubah oleh pengarang demi kebutuhan dramatisasi sebuah cergam silat. Ada kemungkinan kuat tokoh tersebut adalah Rabin bin Amat, jawara dari Batuceper, namun bukti pendukung yang bersifat mutlak belum ditemukan.