Politik hari ini tidak lagi hanya berlangsung di gedung parlemen, kantor pemerintahan, atau ruang-ruang diskusi resmi. Politik telah pindah ke layar ponsel. Ia hadir dalam bentuk video pendek, unggahan Instagram, komentar TikTok, utas, meme, hingga perdebatan panjang yang kadang lebih panas daripada persoalan yang sebenarnya sedang dibahas.
Pertanyaannya, ketika politik semakin ramai di media sosial, apakah rakyat masih benar-benar menjadi prioritas?
Pertanyaan ini penting karena ruang digital telah menjadi salah satu arena utama pembentukan opini publik. Data Digital 2026 Indonesia menunjukkan terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial aktif di Indonesia pada akhir 2025, setara dengan sekitar 62,9 persen populasi. Angka tersebut menunjukkan bahwa media sosial bukan lagi ruang tambahan dalam kehidupan masyarakat, melainkan telah menjadi bagian penting dari cara publik menerima, menyebarkan, dan menilai informasi.

Sumber: datareportal.com
Namun, besarnya ruang digital tidak selalu berarti semakin besarnya ruang bagi kepentingan rakyat. Di media sosial, politik sering kali bekerja dengan logika yang berbeda. Yang paling ramai belum tentu yang paling penting. Yang paling banyak dibagikan belum tentu yang paling berdampak. Dan yang paling keras suaranya belum tentu mewakili kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.
Politisi dapat menjadi viral karena satu pernyataan. Pejabat bisa menjadi pusat perhatian karena sebuah video. Pendukung dan penentang dapat menghabiskan berhari-hari untuk memperdebatkan satu isu. Sementara itu, persoalan tentang harga kebutuhan hidup, lapangan pekerjaan, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kualitas layanan publik kadang justru tenggelam di antara banjir konten politik.
Di sinilah persoalan sesungguhnya.
Politik yang terlalu sibuk mengejar perhatian berpotensi kehilangan orientasi. Pemerintahan dapat terlihat aktif karena unggahannya ramai, tetapi ukuran keberhasilan seharusnya tidak berhenti pada jumlah penonton, komentar, atau tanda suka. Rakyat tidak membutuhkan kebijakan yang hanya tampak baik di layar. Rakyat membutuhkan kebijakan yang benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari.