Selasa, 22 September 2026

Rabin Pendekar Golok Tjiomas: Kisah Komik dan Jejak Sejarah Jawara Tangerang

BAGIKAN:
Rabin Pendekar Golok Tjiomas: Kisah Komik dan Jejak Sejarah...
0
Rabin Pendekar Golok Tjiomas: Kisah Komik dan Jejak Sejarah Jawara Tangerang
Jejak fisik sejarah: batu nisan Rabin bin Amat di Batuceper, Tangerang. Usia 115 tahun, wafat 1 Agustus 2003. Sosok jawara legendaris yang dikaitkan dengan komik silat klasik Rabin Pendekar Golok Tjiomas.

Meskipun membutuhkan penelitian historis lebih lanjut untuk mencari dokumen penghubung yang pasti, keselarasan nama, wilayah asal sang komikus, serta latar belakang budaya lokal membuat teori hubungan ini menjadi sangat masuk akal bagi para pencinta sejarah.

Kolaborasi Maestro di Balik Lembar Cergam

Kisah ketokohan Rabin menarik perhatian dua figur besar dalam industri kreatif masa itu. Keterangan pada halaman dalam komik membuktikan bahwa cergam ini lahir dari kolaborasi:

- Ilustrator: Toha-Iskandar (Paris Iskandar/Sim Kim Toh). Sebagai komikus legendaris Nusantara klasik yang lahir dan tumbuh besar di Tangerang, Toha memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan kisah-kisah jawara dari tanah kelahirannya sendiri.
- Penulis Naskah: Zaidin Wahab, sastrawan sekaligus wartawan senior Pos Kota yang terkenal piawai dalam menggali serta menuliskan epos jagoan lokal bercorak budaya Betawi dan wilayah penyangga.

Melalui naskah Zaidin Wahab dan goresan tinta khas Toha, nama besar Rabin diabadikan dari cerita mulut ke mulut menjadi sebuah karya visual yang epik.

Garis Waktu dan Penerbitan

Berdasarkan dokumen yang ada, komik Rabin Pendekar Golok Tjiomas merupakan produk budaya penting yang lahir pada awal dekade 1970-an:

- Tahun Terbit & Otorisasi: Melalui stempel pemeriksaan resmi dari Seksi Bina Budaja KOMDAK VII DJAJA dengan Nomor Pendaftaran 199/BB/L.B.K./70, komik ini resmi dinyatakan lolos sensor pada 27 Juni 1970. Saat komik terbit, Rabin bin Amat diperkirakan berusia sekitar 82 tahun dan masih hidup sebagai sosok jawara terpandang.
- Penerbit: UP. Sastra Kumala (San Agency), salah satu penerbit besar yang menjadi motor penggerak zaman keemasan cergam klasik Indonesia.

Budaya Patriarki Bertemu Roda Kapitalisme: Beban Ganda Perempuan Pekerja Formal dan Informal
Artikel Selanjutnya

Budaya Patriarki Bertemu Roda Kapitalisme: Beban Ganda Perempuan Pekerja Formal dan Informal

Kontributor: Sap Rudin
Diterbitkan: 21 September 2026, 03:24 WIB · Diperbarui: 21 September 2026, 18:04 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

Pendidikan Itu Mahal, yang Murah Hanya Gaji Gurunya

Konten dari Pengguna Opini Selasa, 12 Mei 2026 | 09:02 WIB

Royal Baroe: Mempercantik Kota atau Mengabaikan Prioritas?

Konten dari Pengguna Opini Senin, 11 Mei 2026 | 15:25 WIB

Pelayanan Kesehatan di Banten: Antara Harapan dan Kenyataan Pasien

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Senin, 11 Mei 2026 | 15:20 WIB

Perbaikan Jalan di Kota Serang: Sudahkah Menyentuh Kebutuhan Masyarakat?

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Senin, 11 Mei 2026 | 15:09 WIB

Seompreng Harapan untuk Masa Depan Generasi Indonesia

Konten dari Pengguna Opini Minggu, 10 Mei 2026 | 09:57 WIB

Prestasi Diakui, Kesejahteraan Diabaikan: Nasib Guru Berprestasi di Negeri Sendiri

Konten dari Pengguna Opini Jumat, 8 Mei 2026 | 05:53 WIB

Antara Bahagia dan Berlebihan, Fenomena Euforia Kelulusan di Kalangan Pelajar

Konten dari Pengguna Opini Kamis, 7 Mei 2026 | 11:48 WIB

Tingginya Pengangguran di Kota Serang: Kurangnya Lapangan Kerja atau Kualitas SDM?

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Rabu, 6 Mei 2026 | 21:46 WIB

Pendidikan Harus Mengedepankan Keteladanan, Bukan Tekanan

Konten dari Pengguna Opini Selasa, 5 Mei 2026 | 14:18 WIB

Freestyle Viral Bukan Ukuran Kehebatan Anak Zaman Sekarang

Konten dari Pengguna Opini Selasa, 5 Mei 2026 | 12:08 WIB