Budaya Patriarki Bertemu Roda Kapitalisme: Beban Ganda Perempuan Pekerja Formal dan Informal
Budaya patriarki masih memengaruhi pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam banyak keluarga, laki-laki masih sering ditempatkan sebagai pencari nafkah utama, sedangkan perempuan dikaitkan dengan pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan. Pandangan tersebut tidak selalu terlihat sebagai aturan tertulis, tetapi dapat muncul melalui kebiasaan dan harapan sosial yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang lebih bertanggung jawab terhadap urusan domestik.
Persoalan tersebut menjadi lebih kompleks ketika perempuan masuk ke dunia kerja. Perempuan tidak hanya menjalankan pekerjaan yang menghasilkan pendapatan, tetapi juga tetap menghadapi tuntutan untuk mengurus rumah tangga. Setelah menyelesaikan pekerjaan di tempat kerja, sebagian perempuan masih harus memasak, mencuci, membersihkan rumah, merawat anak, serta mengurus anggota keluarga lainnya. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai beban ganda perempuan.
Data dan kajian internasional menunjukkan bahwa pekerjaan perawatan dan pekerjaan domestik memang tidak terbagi secara seimbang. UN Women mencatat bahwa perempuan dan anak perempuan secara global menghabiskan sekitar 2,5 kali lebih banyak waktu untuk pekerjaan perawatan dan domestik tidak berbayar dibandingkan laki-laki. Pekerjaan tersebut meliputi memasak, membersihkan rumah, merawat anak, serta merawat anggota keluarga.
Di Indonesia, persoalan tersebut juga terlihat dalam kehidupan perempuan pekerja. ILO bersama Magdalene melakukan eksperimen sosial terhadap lima perempuan di Indonesia dengan mencatat aktivitas perawatan dan pekerjaan domestik mereka selama satu minggu. Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa peserta menghabiskan lebih dari 100 jam dalam satu minggu untuk pekerjaan perawatan yang tidak dibayar. Data tersebut menggambarkan bagaimana pekerjaan domestik dapat menyita waktu yang sangat besar, meskipun pekerjaan tersebut tidak selalu dianggap sebagai pekerjaan.
Beban tersebut dapat dirasakan oleh perempuan yang bekerja di sektor formal maupun informal. Pekerja formal biasanya memiliki hubungan kerja yang lebih terstruktur, misalnya bekerja di perusahaan, lembaga pemerintahan, sekolah, rumah sakit, atau institusi lainnya. Namun, memiliki pekerjaan formal tidak otomatis menghilangkan tanggung jawab domestik. Perempuan tetap dapat menghadapi tuntutan untuk mengatur pekerjaan sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga.
Sementara itu, perempuan di sektor informal menghadapi kondisi yang berbeda. Mereka dapat bekerja sebagai pedagang, pekerja rumah tangga, pekerja usaha keluarga, pekerja lepas, maupun pekerja berbasis platform. Pendapatan dalam pekerjaan tersebut dapat tidak tetap dan perlindungan sosialnya berbeda-beda. Kondisi ini dapat semakin berat ketika pekerjaan harus disesuaikan dengan tanggung jawab pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga.
Contohnya terlihat dalam laporan ILO mengenai pekerja pengantar makanan di Indonesia. Salah satu perempuan yang menjadi bagian dari eksperimen ILO-Magdalene tercatat harus membagi waktunya antara pekerjaan pengantaran, mengasuh anak, memasak, membersihkan rumah, dan mencuci. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan perempuan pekerja bukan hanya mengenai akses terhadap pekerjaan, tetapi juga mengenai bagaimana pekerjaan berbayar dan pekerjaan perawatan dibagi dalam kehidupan sehari-hari.