Purworejo - Mewujudkan pendidikan berkualitas tidak hanya berkaitan dengan pencapaian nilai akademik siswa, tetapi juga bagaimana sekolah mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, inklusif, dan memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk berkembang. Hal tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4 atau Quality Education, yang menargetkan pendidikan yang inklusif dan berkualitas bagi semua.
Salah satu tantangan yang dapat ditemui dalam proses pembelajaran adalah adanya siswa yang memiliki tingkat aktivitas yang tinggi di kelas. Siswa dapat terlihat sering bergerak, berbicara dengan teman, sulit mempertahankan perhatian dalam waktu lama, atau lebih cepat merasa bosan ketika pembelajaran berlangsung secara monoton. Kondisi tersebut dapat memengaruhi konsentrasi siswa yang bersangkutan maupun suasana belajar di kelas.
Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya langsung dipandang sebagai kenakalan. Setiap siswa memiliki karakteristik, kebutuhan, dan cara belajar yang berbeda. Oleh karena itu, guru memiliki peran penting dalam menciptakan strategi pembelajaran yang dapat mengakomodasi keberagaman tersebut.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menerapkan pembelajaran yang lebih aktif dan melibatkan siswa secara langsung. Guru dapat mengombinasikan kegiatan diskusi kelompok, permainan edukatif, praktik, presentasi, proyek, maupun aktivitas yang memungkinkan siswa bergerak dan berinteraksi secara positif.
Misalnya, dalam pembelajaran kewirausahaan, guru dapat memberikan proyek kepada siswa untuk mengidentifikasi permasalahan di lingkungan sekitar kemudian mengubahnya menjadi sebuah ide bisnis. Dengan kegiatan tersebut, siswa tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan, tetapi juga melakukan pengamatan, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan menghasilkan karya.Pendekatan semacam ini dapat membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa terlibat langsung dalam proses memperoleh pengetahuan.
Siswa yang memiliki aktivitas tinggi juga dapat memiliki potensi berupa keberanian berkomunikasi, antusiasme, spontanitas, dan energi yang besar. Potensi tersebut dapat diarahkan melalui aktivitas yang terstruktur.
Guru dapat memberikan tanggung jawab sederhana, seperti menjadi ketua kelompok, penyaji hasil diskusi, pembawa alat pembelajaran, atau anggota yang bertugas menyampaikan hasil pengamatan. Dengan demikian, energi siswa dapat disalurkan ke kegiatan yang mendukung proses pembelajaran.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan tujuan SDG 4 yang tidak hanya berfokus pada akses pendidikan, tetapi juga pada terciptanya lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan efektif.