November 1939, ia meninggalkan Balige menuju Batavia, lalu ke Bandung. Di kota inilah ia menamatkan Kadasterschool pada 1942 dengan nilai terbaik.
Tapi sejarah punya cara sendiri mengacak rencana manusia.
Pendudukan Jepang merampas pekerjaannya di kantor agraria. Manonga turun ke Pasar Senen, berjualan emping demi mengirim uang ke kampung.
Dari meja pasar ke barak militer, itulah lompatan hidup berikutnya. Atas saran kawan-kawannya, ia mendaftar ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) bentukan Angkatan Laut Jepang.
Ia diterima, dilatih, dan dikirim ke laut sebagai mualim. Di sanalah disiplin, komando, dan naluri kepemimpinan ditempa.
Ketika Jepang runtuh, Manonga tidak menunggu sejarah berjalan sendiri. Bersama para lulusan SPT, ia merebut senjata dan instalasi pertahanan.
Pada 10 September 1945, Badan Keamanan Rakyat Laut dibentuk. Manonga termasuk perwira yang dikirim ke Sumatra—wilayah luas dengan garis pantai panjang, tapi kekuatan laut nyaris nol.
Dari Lampung ke Sumatra Timur, Manonga membangun dari nol.
Ia sempat pulang ke Balige. Orang tuanya berharap ia menetap, memimpin desa.