Dede, salah satu peserta yang berasal dari Baros, Kabupaten Serang, juga turut berbagi pengalamannya. Ia mengaku telah beberapa kali menghadiri tradisi ngeropok di Pabuaran Tembong dan merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari acara ini.
“Alhamdulillah, kami sudah beberapa kali mengikuti kegiatan ngeropok di sini. Selain mendapatkan berkah dari acara ini, kami juga bisa bersilaturahmi dengan banyak orang,” ungkapnya.
Meski zaman terus berkembang, tradisi ngeropok tetap dilestarikan oleh masyarakat Serang dan sekitarnya. Di tengah modernisasi dan perubahan sosial yang terjadi, tradisi ini tetap dijaga sebagai warisan budaya yang kaya akan makna spiritual dan sosial.
Bagi masyarakat Banten, ngeropok bukan hanya sekadar perayaan tahunan, tetapi juga sebuah simbol kebersamaan, kepedulian, dan persaudaraan yang telah ditanamkan oleh leluhur mereka.
Tradisi ngeropok menjadi pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai kebersamaan di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis. Melalui tradisi ini, masyarakat Banten diajarkan untuk terus memelihara hubungan sosial dan peduli terhadap sesama, khususnya kepada mereka yang membutuhkan.
Sebagai salah satu warisan budaya Banten, ngeropok tidak hanya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi wujud nyata dari semangat gotong-royong dan kepedulian sosial yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Serang. Tradisi ini menjadi bukti bahwa di tengah arus globalisasi dan modernisasi, nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian tetap dapat dijaga dan dilestarikan. (*)
Pewarta: Herfa