Dalam upaya melestarikan seni dan budaya Sumbagsel, Kostrat selalu menampilkan tarian dan musik tradisional pada setiap kegiatan. Pada acara hari jadi yang pertama, mereka menampilkan musik Dol dari Bengkulu.
Musik Dol, yang biasa dimainkan dalam acara budaya Tabot, mirip dengan rampak beduk di Sunda namun dengan atraksi berputar sambil memegang gendang besar. "Kami sengaja menampilkan musik Dol untuk memperkenalkan kekayaan budaya kami kepada masyarakat Banten dan anggota Kostrat dari provinsi lain," jelas Hannibal.
Selain musik Dol, mereka juga menampilkan tarian dan silat dari suku Sumendo. Kostrat memiliki padepokan di Bogor dan berencana mendirikan padepokan baru di Banten untuk mendukung pelestarian budaya.
"Kami ingin memastikan bahwa seni dan budaya Sumbagsel tetap eksis dan terjaga dengan baik," tambah Hannibal.
Di sisi kesejahteraan anggota, Kostrat sedang menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk Yayasan Maritim Pembangunan, untuk memberikan kemudahan pendidikan bagi anak-anak anggota. "Kami berupaya meningkatkan kesejahteraan anggota melalui pendidikan agar anak-anak anggota bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan membawa kesejahteraan bagi keluarganya," kata Hannibal.
Kostrat juga merencanakan kerja sama dengan Kemenkumham, khususnya Bapas Ciangir, Kabupaten Tangerang untuk mendirikan griya bipaya.
Griya ini akan menjadi tempat pembinaan bagi narapidana yang sudah bebas dengan jalur pembebasan bersyarat, di mana mereka akan belajar keterampilan seperti pembuatan pupuk dan budidaya hidroponik.
"Kami berharap keterampilan ini bisa membantu mereka untuk kembali ke masyarakat dan menghidupi keluarganya," ungkap Hannibal.