Garut, 27 April 2026 - Semangat perubahan terus ditunjukkan dunia pendidikan, termasuk di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Ar-Raudhotun Nur. Salah satu langkah nyata dilakukan Kepala Madrasah, Mutiara Selandiana Effendi, S.Pd., setelah mengikuti Pelatihan KBC melalui program PINTAR. Ilmu dan wawasan yang diperoleh dari pelatihan tersebut langsung diimplementasikan kepada seluruh peserta didik melalui amanat pada upacara bendera yang digelar di halaman madrasah.
Dalam kesempatan tersebut, Mutiara menyampaikan pesan penting mengenai kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari nilai keimanan kepada Allah SWT. Mutiara menegaskan bahwa mencintai alam bukan sekadar tindakan sosial, melainkan juga bentuk ibadah dan tanggung jawab seorang muslim terhadap ciptaan Tuhan.
Di hadapan para siswa, guru, dan tenaga kependidikan, Mutiara mengajak seluruh warga madrasah untuk mulai membiasakan perilaku sederhana yang berdampak besar, salah satunya adalah menggunakan air secara bijak. Menurutnya, air merupakan nikmat Allah SWT yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan penuh tanggung jawab. “ Anak-anakku sekalian, mencintai lingkungan adalah bagian dari iman. Allah menciptakan alam ini untuk dijaga, bukan dirusak atau disia-siakan. Salah satu cara sederhana yang bisa kita lakukan setiap hari adalah menggunakan air secukupnya,” ujar Mutiara dalam amanatnya.

Mutiara kemudian mengaitkan pentingnya menjaga lingkungan dengan teladan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh yang disampaikan adalah bagaimana Rasulullah menggunakan air saat berwudhu. Meski memiliki kesempatan menggunakan air yang banyak, Rasulullah tetap menunjukkan sikap sederhana dan tidak berlebihan. “ Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk hidup hemat dan tidak berlebih-lebihan. Bahkan ketika berwudhu, beliau menggunakan air secukupnya. Sekitar satu mud atau kurang lebih tiga perempat liter air saja sudah cukup untuk berwudhu dengan sempurna,” jelasnya.
Pernyataan tersebut membuat para siswa tampak antusias mendengarkan. Sebagian dari mereka baru mengetahui bahwa jumlah air yang dibutuhkan untuk berwudhu sebenarnya tidak sebanyak yang selama ini digunakan. Mutiara menilai kebiasaan siswa yang sering membuka keran terlalu besar dan membiarkan air mengalir terus-menerus perlu segera diperbaiki melalui edukasi sejak dini. Mutiara mengungkapkan bahwa masih banyak siswa yang belum menyadari pentingnya penghematan air. Saat berwudhu menjelang salat dhuha maupun salat zuhur berjamaah, tidak sedikit siswa yang menggunakan air secara berlebihan. Padahal, jika kebiasaan itu terus dilakukan, maka akan menimbulkan pemborosan dan bertentangan dengan ajaran Islam. “ Masih ada yang bermain air saat berwudhu, membuka keran terlalu besar, bahkan membiarkan air terus mengalir. Padahal itu termasuk perilaku mubazir. Menggunakan air berlebihan saat berwudhu sama saja dengan menghambur-hamburkan nikmat Allah,” tegas Mutiara.

Melalui implementasi KBC yang diperolehnya dari pelatihan PINTAR, Mutiara berupaya menghadirkan pendidikan karakter yang lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan siswa. Mutiara tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga menanamkan kebiasaan baik yang dapat diterapkan langsung dalam aktivitas sehari-hari. Program ini pun mendapat sambutan positif dari para guru. Mereka menilai pesan yang disampaikan kepala madrasah sangat relevan dengan kondisi saat ini, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan air bersih dan pentingnya menjaga sumber daya alam. Guru-guru juga siap mendukung dengan memberikan pengawasan serta teladan kepada siswa saat berada di lingkungan sekolah. Selain itu, siswa diajak untuk saling mengingatkan ketika melihat teman yang masih boros air. Dengan demikian, budaya peduli lingkungan tidak hanya berhenti pada nasihat saat upacara, tetapi benar-benar tumbuh menjadi kebiasaan bersama.
Mutiara berharap implementasi KBC melalui pendekatan sederhana seperti ini mampu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan lingkungan yang tinggi. Ia meyakini bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. “ Kita ingin anak-anak menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, dan peduli terhadap lingkungan. Jika dari sekarang mereka terbiasa hemat air, menjaga kebersihan, dan menghargai nikmat Allah, maka kelak mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab,” katanya.
Langkah MIS Ar-Raudhotun Nur ini menjadi contoh bahwa hasil pelatihan guru dan kepala sekolah tidak berhenti sebatas sertifikat, tetapi dapat diwujudkan dalam aksi nyata di lingkungan pendidikan. Melalui kepemimpinan yang inspiratif, Mutiara Selandiana Effendi, S.Pd. menunjukkan bahwa madrasah memiliki peran penting dalam menanamkan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai keislaman. Dengan edukasi yang terus dilakukan, diharapkan seluruh siswa semakin memahami bahwa menjaga alam dapat dimulai dari hal sederhana, seperti menutup keran setelah digunakan, memakai air secukupnya saat berwudhu, dan tidak menyia-nyiakan sumber daya yang telah Allah SWT anugerahkan. Dari madrasah, kepedulian itu ditanamkan; dari kebiasaan kecil, perubahan besar diwujudkan.