Kamis, 26 Februari 2026

Starlink, Ancaman Baru bagi Kedaulatan Digital Indonesia?

Iklan
Starlink, Ancaman Baru bagi Kedaulatan Digital Indonesia?

JAKARTA - Henry Subiakto, seorang pakar di bidang media digital, mengekspresikan keprihatinannya terhadap potensi operasional Starlink, layanan internet satelit milik Elon Musk, di Indonesia. Menurutnya, dikutip pada keterangan tertulisnya. Selasa, (21/5/24). Starlink tidak hanya berpotensi merugikan perusahaan telekomunikasi dan penyedia layanan internet nasional seperti Telkom dan Indosat, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh kelompok separatisme seperti KKB/OPM untuk komunikasi mereka yang tidak dapat terdeteksi oleh pemerintah Indonesia.

"Starlink berpotensi merusak NKRI tanpa pemerintah bisa mengontrolnya," kata Subiakto.

"Starlink ini di dunia lebih banyak digunakan oleh negara-negara satelit atau pendukung politik Amerika Serikat."

Subiakto menjelaskan bahwa Starlink adalah satelit Low Earth Orbit (LEO) yang beroperasi dengan ketinggian sekitar 340 hingga 1.200 km di atas permukaan bumi. Satelit ini dirancang untuk bekerja bersama-sama secara sinkron untuk menyediakan layanan internet.

Sebaliknya, satelit komunikasi konvensional ditempatkan di orbit geostasioner (GEO) sekitar 35.786 km di atas khatulistiwa bumi, di mana mereka tetap berada di satu titik relatif terhadap permukaan bumi.

"Starlink menggunakan teknologi phased-array untuk antena, yang memungkinkan satelit mengarahkan sinyal tanpa harus memindahkan satelit itu sendiri," jelas Subiakto.

"Sistem ini dirancang untuk latency rendah dan kecepatan tinggi. Alat penangkap sinyal satelit hanya menggunakan antena kecil dan alat seukuran laptop besar yang bisa dipindah-pindahkan."

Subiakto menambahkan bahwa Starlink tidak membutuhkan mitra untuk mendistribusikan layanannya ke masyarakat, berbeda dengan satelit konvensional yang membutuhkan perusahaan operator seluler dan ISP sebagai mitra.

Iklan
Penulis

Tags

Terkini