Senin, 21 September 2026

Budaya Patriarki Bertemu Roda Kapitalisme: Beban Ganda Perempuan Pekerja Formal dan Informal

Kota Serang Kota Serang, Banten
BAGIKAN:
Budaya Patriarki Bertemu Roda Kapitalisme: Beban Ganda Perem...
0
Budaya Patriarki Bertemu Roda Kapitalisme: Beban Ganda Perempuan Pekerja Formal dan Informal
Foto penulis

Masalah lainnya terletak pada cara masyarakat memberikan nilai terhadap jenis pekerjaan. Pekerjaan yang menghasilkan uang cenderung lebih mudah dikenali sebagai pekerjaan produktif. Sebaliknya, memasak, membersihkan rumah, merawat anak, dan merawat anggota keluarga sering dianggap sebagai kewajiban pribadi. Padahal, pekerjaan tersebut membutuhkan waktu, tenaga, dan keterampilan. UN Women menegaskan bahwa pekerjaan perawatan, baik yang dibayar maupun tidak dibayar, memiliki peran penting dalam keberlangsungan keluarga, masyarakat, dan perekonomian.

Dalam konteks ini, perspektif feminisme Marxis dapat digunakan untuk melihat hubungan antara ketimpangan gender dan struktur ekonomi. Feminisme Marxis tidak hanya melihat penindasan perempuan sebagai persoalan hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga mempertanyakan bagaimana sistem ekonomi membentuk pembagian kerja. Salah satu perhatian pentingnya adalah pekerjaan reproduktif, yaitu pekerjaan seperti melahirkan, merawat, mengasuh, memasak, dan menjaga keberlangsungan kehidupan sehari-hari.

Pekerjaan reproduktif tersebut memiliki hubungan dengan kegiatan ekonomi karena memungkinkan anggota keluarga untuk tetap bekerja dan menjalankan aktivitas produktif. Namun, pekerjaan domestik yang dilakukan tanpa upah sering tidak terlihat dalam perhitungan ekonomi. Karena itu, perempuan dapat berada dalam situasi ketika mereka bekerja untuk memperoleh pendapatan sekaligus melakukan pekerjaan domestik tanpa bayaran.

Di sinilah persoalan kapitalisme dan patriarki dapat dilihat secara bersamaan. Sistem ekonomi membutuhkan tenaga kerja yang dapat bekerja secara produktif, sementara kehidupan sehari-hari pekerja membutuhkan proses perawatan agar dapat terus berlangsung. Ketika sebagian besar pekerjaan perawatan tersebut dibebankan kepada perempuan dan tidak mendapatkan penghargaan ekonomi yang memadai, perempuan dapat menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus.

Namun, persoalan ini tidak berarti bahwa semua perempuan mengalami kondisi yang sama. Status pekerjaan, pendapatan, kelas sosial, jumlah anggota keluarga, akses terhadap layanan pengasuhan, serta kondisi lingkungan kerja dapat memengaruhi tingkat beban yang mereka hadapi. Karena itu, pembahasan mengenai perempuan pekerja perlu melihat kondisi konkret yang berbeda antara satu kelompok perempuan dengan kelompok lainnya.

Kesetaraan gender juga tidak cukup hanya dengan memberikan kesempatan kepada perempuan untuk masuk ke dunia kerja. Kesetaraan perlu dibarengi dengan pembagian pekerjaan domestik yang lebih adil. Laki-laki juga memiliki tanggung jawab dalam mengurus rumah, merawat anak, dan merawat anggota keluarga. UN Women menempatkan redistribusi pekerjaan perawatan tidak berbayar sebagai salah satu bagian penting dalam upaya mencapai kesetaraan gender.

Selain pembagian kerja di dalam keluarga, perlindungan di tempat kerja juga penting. Perempuan membutuhkan lingkungan kerja yang aman, perlindungan dari diskriminasi, kesempatan memperoleh pekerjaan layak, serta akses terhadap perlindungan sosial. UN Women mencatat bahwa ketimpangan dalam dunia kerja masih berkaitan dengan kesenjangan upah, keterbatasan akses terhadap posisi kepemimpinan, pemisahan pekerjaan berdasarkan gender, dan tanggung jawab pengasuhan yang tidak seimbang.

Dengan demikian, membicarakan kesetaraan gender tidak cukup hanya dengan meminta perempuan untuk meningkatkan kemampuan dan bekerja lebih keras. Perlu ada perubahan dalam pembagian kerja, kebijakan ketenagakerjaan, akses terhadap layanan pengasuhan, serta cara masyarakat memahami pekerjaan domestik. BPS sendiri menyediakan data mengenai kondisi perempuan dan laki-laki di Indonesia yang mencakup pendidikan, kesehatan, serta kondisi sosial ekonomi sebagai dasar untuk melihat ketimpangan berdasarkan gender secara lebih konkret.

Menolak Lupa: Rentetan Peristiwa Kelam dalam Sejarah Indonesia di Bulan September
Artikel Selanjutnya

Menolak Lupa: Rentetan Peristiwa Kelam dalam Sejarah Indonesia di Bulan September

Kontributor: Ilyas Kamilul
Diterbitkan: 20 September 2026, 20:43 WIB · Diperbarui: 20 September 2026, 23:48 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

Pendidikan Itu Mahal, yang Murah Hanya Gaji Gurunya

Konten dari Pengguna Opini Selasa, 12 Mei 2026 | 09:02 WIB

Royal Baroe: Mempercantik Kota atau Mengabaikan Prioritas?

Konten dari Pengguna Opini Senin, 11 Mei 2026 | 15:25 WIB

Pelayanan Kesehatan di Banten: Antara Harapan dan Kenyataan Pasien

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Senin, 11 Mei 2026 | 15:20 WIB

Perbaikan Jalan di Kota Serang: Sudahkah Menyentuh Kebutuhan Masyarakat?

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Senin, 11 Mei 2026 | 15:09 WIB

Seompreng Harapan untuk Masa Depan Generasi Indonesia

Konten dari Pengguna Opini Minggu, 10 Mei 2026 | 09:57 WIB

Prestasi Diakui, Kesejahteraan Diabaikan: Nasib Guru Berprestasi di Negeri Sendiri

Konten dari Pengguna Opini Jumat, 8 Mei 2026 | 05:53 WIB

Antara Bahagia dan Berlebihan, Fenomena Euforia Kelulusan di Kalangan Pelajar

Konten dari Pengguna Opini Kamis, 7 Mei 2026 | 11:48 WIB

Tingginya Pengangguran di Kota Serang: Kurangnya Lapangan Kerja atau Kualitas SDM?

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Rabu, 6 Mei 2026 | 21:46 WIB

Pendidikan Harus Mengedepankan Keteladanan, Bukan Tekanan

Konten dari Pengguna Opini Selasa, 5 Mei 2026 | 14:18 WIB

Freestyle Viral Bukan Ukuran Kehebatan Anak Zaman Sekarang

Konten dari Pengguna Opini Selasa, 5 Mei 2026 | 12:08 WIB

Hari Pendidikan Nasional dan Tanggung Jawab Kita Menjaga Masa Depan Bangsa

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Sabtu, 2 Mei 2026 | 06:01 WIB