Keputusan yang diketok di Washington sering baru terasa beberapa hari kemudian, baik di kurs yang bergeser, di cicilan yang dihitung ulang, maupun di harga barang impor yang pelan-pelan naik.
Pada 16 September 2026, The Fed menaikkan target suku bunga acuannya 25 basis poin menjadi 3,75 sampai 4 persen lewat suara bulat 12-0. Ini kenaikan pertama sejak 2023. Alasannya terang, yaitu inflasi dinilai masih tinggi dan langkah ini dimaksudkan agar target 2 persen tercapai lebih cepat. Proyeksi terbaru bahkan memberi sinyal masih ada peluang satu kenaikan lagi tahun ini.
Lalu apa urusannya dengan kita? Jawabannya ada pada selisih bunga. BI menahan BI Rate di 5,75 persen pada RDG 22–23 September 2026. Sebelum The Fed bergerak, target suku bunganya masih 3,50 sampai 3,75 persen, sehingga jarak dengan BI Rate sekitar 2 sampai 2,25 poin. Sekarang tinggal 1,75 sampai 2 poin. BI tidak mengubah apa pun, tetapi daya tarik relatif bunga kita menyusut. Bagi investor global yang bisa memindahkan dana dalam hitungan menit, itu cukup untuk menimbang ulang.
Pasar sebenarnya sudah memperkirakan langkah ini, jadi reaksi awal rupiah tidak dramatis. Pada 17 September, rupiah ditutup melemah ke kisaran Rp17.700-an per dolar AS. Namun tekanannya tidak berhenti di situ. Pada 1 Oktober, rupiah ditutup di Rp17.966 per dolar AS menurut data Bloomberg, dipengaruhi rilis inflasi dan rencana kenaikan bunga The Fed. Seorang analis mata uang mengingatkan rupiah bisa menguji level Rp18.000 jika dolar AS dan imbal hasil obligasi AS terus naik.
Jalan klasiknya adalah menaikkan bunga. BI sudah menaikkan BI Rate secara kumulatif 100 basis poin sejak awal tahun. Tetapi menaikkan lagi ada harganya. Bunga yang lebih tinggi membuat kredit lebih mahal, padahal BI di saat yang sama masih menjaga kebijakan makroprudensial yang longgar agar kredit ke sektor riil bertumbuh. Satu kaki menginjak rem, satu kaki menekan gas. Itu bukan kesalahan BI, begitulah sempitnya ruang geraknya.
Ada pula tekanan yang tidak bisa disentuh suku bunga. Inflasi tahunan September 2026 mencapai 3,28 persen, sementara inflasi inti 2,84 persen. Angka itu sudah dekat dengan batas atas sasaran BI, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen. Dari inflasi bulanan 0,30 persen, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang 0,26 poin, dengan cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, dan beras sebagai pendorong utama. Harga cabai tidak turun hanya karena BI Rate naik. Bank sentral dituntut menjaga rupiah dari tekanan luar sekaligus menjaga harga dari gejolak dalam negeri dengan satu alat utama. Itu beban yang terlalu berat bila dipikul sendirian.
Menurut saya ada tiga hal yang perlu didorong. Pertama, menaikkan bunga sebagai refleks setiap kali The Fed bergerak adalah kebiasaan yang mahal. Opsi itu sebaiknya disimpan untuk saat tekanan rupiah benar-benar mengancam sasaran inflasi, bukan sekadar menjaga selisih bunga tetap lebar. BI sendiri menyatakan akan memperkuat insentif untuk menarik aliran modal asing dan mempercepat pendalaman pasar uang dan valas, dan arah ini perlu dikawal agar hasilnya nyata.
Kedua, pemerintah harus mengambil bagian di sisi pangan, lewat pasokan dan distribusi, supaya inflasi makanan tidak menambah beban yang sama.