Klaim Berlebihan Juga Bisa Menjadi Masalah
Persoalan lain muncul ketika produk berbahan alam atau pengobatan tradisional dipromosikan dengan klaim yang terlalu jauh. Masyarakat mungkin melihat kata “alami” sebagai sesuatu yang otomatis aman, padahal anggapan tersebut tidak selalu benar.
Pada 2026, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia melaporkan temuan 12 obat bahan alam ilegal yang mengandung bahan kimia obat. Produk-produk tersebut juga menggunakan berbagai klaim kesehatan, antara lain untuk pegal linu, gangguan saluran pencernaan, penyakit kulit, dan sesak napas (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia [BPOM RI], 2026).
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu lebih teliti ketika menemukan produk atau informasi kesehatan dengan klaim yang terdengar terlalu mudah atau terlalu menjanjikan. Kata “alami” tidak otomatis berarti aman, sama seperti sebuah produk yang sudah dikenal luas tidak otomatis membuat semua klaim manfaatnya terbukti.

Tidak Harus Memilih Tradisional atau Modern
Pembahasan mengenai pengobatan tradisional sering kali dibuat seolah-olah masyarakat harus memilih: tradisional atau medis modern. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu.
WHO melalui Global Traditional Medicine Strategy 2025–2034 menekankan penguatan bukti, keamanan, regulasi, serta pemanfaatan pengobatan tradisional secara tepat dalam sistem kesehatan (WHO, 2025).
Pengobatan tradisional memiliki nilai budaya dan pengetahuan lokal yang penting. Di sisi lain, pelayanan medis modern memiliki pendekatan ilmiah, proses diagnosis, penelitian, dan standar keselamatan yang juga penting. Yang dibutuhkan bukan saling meniadakan, tetapi kemampuan untuk memahami kapan sebuah praktik dapat digunakan dan kapan seseorang perlu mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan.