Senin, 28 September 2026

Dari Kerokan ke Algoritma: Ketika Pengobatan Tradisional Bertemu Dunia Digital

BAGIKAN:
Dari Kerokan ke Algoritma: Ketika Pengobatan Tradisional Ber...
0
Dari Kerokan ke Algoritma: Ketika Pengobatan Tradisional Bertemu Dunia Digital
‎Tambah keterangan... Sumber: Ezagren/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Klaim Berlebihan Juga Bisa Menjadi Masalah

Persoalan lain muncul ketika produk berbahan alam atau pengobatan tradisional dipromosikan dengan klaim yang terlalu jauh. Masyarakat mungkin melihat kata “alami” sebagai sesuatu yang otomatis aman, padahal anggapan tersebut tidak selalu benar.

Pada 2026, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia melaporkan temuan 12 obat bahan alam ilegal yang mengandung bahan kimia obat. Produk-produk tersebut juga menggunakan berbagai klaim kesehatan, antara lain untuk pegal linu, gangguan saluran pencernaan, penyakit kulit, dan sesak napas (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia [BPOM RI], 2026).

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu lebih teliti ketika menemukan produk atau informasi kesehatan dengan klaim yang terdengar terlalu mudah atau terlalu menjanjikan. Kata “alami” tidak otomatis berarti aman, sama seperti sebuah produk yang sudah dikenal luas tidak otomatis membuat semua klaim manfaatnya terbukti.

img-20260928-wa0010.webp
Sumber: Jugana Loder/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.

Tidak Harus Memilih Tradisional atau Modern

Pembahasan mengenai pengobatan tradisional sering kali dibuat seolah-olah masyarakat harus memilih: tradisional atau medis modern. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu.

WHO melalui Global Traditional Medicine Strategy 2025–2034 menekankan penguatan bukti, keamanan, regulasi, serta pemanfaatan pengobatan tradisional secara tepat dalam sistem kesehatan (WHO, 2025).

Pengobatan tradisional memiliki nilai budaya dan pengetahuan lokal yang penting. Di sisi lain, pelayanan medis modern memiliki pendekatan ilmiah, proses diagnosis, penelitian, dan standar keselamatan yang juga penting. Yang dibutuhkan bukan saling meniadakan, tetapi kemampuan untuk memahami kapan sebuah praktik dapat digunakan dan kapan seseorang perlu mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan.

ILHAM 7S: Kreator Gaming Indonesia dengan Perjalanan Konsisten Membangun Komunitas Digital
Artikel Selanjutnya

ILHAM 7S: Kreator Gaming Indonesia dengan Perjalanan Konsisten Membangun Komunitas Digital

Kontributor: Ghefira Lia
Diterbitkan: 28 September 2026, 14:01 WIB · Diperbarui: 28 September 2026, 17:27 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

10 Kebiasaan Pemicu Ketidakbahagiaan, Ini Dampaknya bagi Kesehatan

Konten Redaksi Minggu, 12 April 2026 | 21:30 WIB

Cara Menyimpan Makanan di Kulkas agar Tahan Lama

Konten Redaksi Minggu, 12 April 2026 | 21:00 WIB

Tips Tetap Produktif Meski Alami Hari Buruk di Kantor

Konten Redaksi Minggu, 12 April 2026 | 20:12 WIB

Sulit Berhenti Merokok? Ini dia Cara Efektifnya

Konten Redaksi Minggu, 12 April 2026 | 19:00 WIB

Cara Membedakan Madu Asli dan Palsu di Rumah

Konten Redaksi Minggu, 12 April 2026 | 17:00 WIB

Dari Scroll Jadi Sold: Cara @fahshop_24 Mengubah Penonton Menjadi Pembeli

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Kamis, 9 April 2026 | 09:44 WIB

Bapas Tanjungpandan Gelar Pelatihan Barista untuk Klien Pemasyarakatan

Konten Redaksi Kamis, 2 April 2026 | 16:02 WIB

Rising Star Gabriell Elvareta Represents Indonesia in Kuala Lumpur Cultural Showcase

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Selasa, 31 Maret 2026 | 20:20 WIB