Media sosial membuat pencarian informasi kesehatan terasa sangat mudah. Kita tinggal mengetik kata kunci, menonton beberapa video, lalu berbagai konten serupa mulai bermunculan.
Masalahnya, ketika informasi yang sama muncul berulang kali, kita bisa saja merasa bahwa informasi tersebut benar hanya karena sering melihatnya. Padahal, banyaknya penayangan, komentar, atau jumlah orang yang membagikan sebuah konten bukan ukuran apakah klaim kesehatan di dalamnya benar secara ilmiah.
Konten yang singkat, mengejutkan, atau membuat penasaran juga cenderung lebih mudah mendapat perhatian. Penjelasan kesehatan yang sebenarnya membutuhkan konteks panjang sering kali kalah menarik dibandingkan video yang menawarkan jawaban cepat.
Karena itu, kita perlu berhati-hati dengan pola pikir “kalau banyak yang bilang begitu, berarti benar”. Dalam urusan kesehatan, popularitas dan kebenaran bukan hal yang sama.
Saat Pengalaman Pribadi Berubah Menjadi Klaim
Pengalaman pribadi tetap mempunyai tempat. Seseorang boleh saja bercerita bahwa setelah melakukan suatu praktik tradisional, ia merasa lebih nyaman. Yang perlu dihindari adalah menjadikan pengalaman tersebut sebagai bukti bahwa praktik yang sama pasti dapat mengobati orang lain.
WHO menekankan pentingnya bukti, keamanan, dan efektivitas dalam pengembangan serta penggunaan pengobatan tradisional. Artinya, sebuah praktik tidak cukup dinilai hanya karena sudah dilakukan selama bertahun-tahun; manfaat dan risikonya tetap perlu dipahami (WHO, 2025).
Karena itu, menghargai tradisi tidak berarti kita harus menerima semua klaim yang mengatasnamakan tradisi. Sebaliknya, mengkaji suatu praktik secara ilmiah juga tidak berarti meremehkan budaya masyarakat. Keduanya bisa berjalan bersama.