“Badan nggak enak? Kerokan dulu.” Kalimat seperti ini rasanya sudah biasa kita dengar. Di banyak keluarga, kerokan bukan sekadar kebiasaan ketika badan terasa tidak enak, tetapi juga bagian dari pengetahuan kesehatan yang dikenalkan dari orang tua kepada anak.
Namun, cara kita mengenal pengobatan tradisional sekarang sudah berbeda. Kalau dulu cerita tentang kerokan, jamu, pijat tradisional, atau gurah lebih sering didapat dari keluarga dan orang sekitar, sekarang semuanya bisa muncul di layar ponsel. Satu video bisa ditonton ribuan orang dan dalam waktu singkat menjadi bahan pembicaraan di mana-mana.
Perkembangan ini tentu punya sisi positif. Media sosial dapat membantu memperkenalkan kembali pengetahuan tradisional kepada generasi muda. Tetapi ada persoalan yang tidak kalah penting: ketika sebuah kebiasaan atau pengalaman kesehatan dibagikan di internet, bagaimana kita tahu mana yang merupakan tradisi, mana pengalaman pribadi, dan mana klaim kesehatan yang memang didukung bukti?
Ketika Tradisi Pindah ke Media Sosial
Pengobatan tradisional tumbuh dari pengalaman dan kebudayaan masyarakat. WHO menjelaskan bahwa pengobatan tradisional merupakan bagian dari praktik kesehatan yang berkembang dalam konteks sejarah dan budaya yang beragam. Karena itu, pengobatan tradisional perlu dipandang dengan menghargai konteks budayanya, sekaligus memperhatikan keamanan, kualitas, dan bukti mengenai manfaatnya (World Health Organization [WHO], 2025).
Kerokan bisa menjadi contoh sederhana. Bagi sebagian orang, kerokan adalah kebiasaan keluarga yang sudah dilakukan sejak lama. Akan tetapi, ketika pengalaman tersebut dibawa ke media sosial lalu disertai klaim bahwa kerokan dapat mengatasi berbagai penyakit, persoalannya menjadi lebih luas. Pengalaman satu orang tidak otomatis berarti hasil yang sama akan dialami oleh semua orang.
Di titik ini, kita perlu membedakan dua hal yang sering tercampur: “saya pernah merasakan manfaatnya” dan “praktik ini sudah terbukti efektif.” Keduanya tidak selalu berarti hal yang sama.
Yang Sering Muncul Belum Tentu Benar