Sabtu, 17 Oktober 2026

Literasi bukan hanya soal membaca : Ketika masyarakat kehilangan kemampuan memahami

BAGIKAN:
Literasi bukan hanya soal membaca : Ketika masyarakat kehila...
0
Literasi bukan hanya soal membaca : Ketika masyarakat kehilangan kemampuan memahami
Dokumentasi Milik Ficky Pratama Saragih

Di tengah derasnya arus informasi, membaca seharusnya menjadi salah satu kemampuan paling penting yang dimiliki manusia. Setiap hari kita berhadapan dengan berita, unggahan media sosial, artikel, video, iklan, hingga berbagai macam opini yang datang silih berganti. Informasi begitu mudah ditemukan, hanya dengan beberapa sentuhan pada layar gawai. Namun, muncul sebuah pertanyaan yang lebih penting yaitu apakah banyaknya informasi yang kita baca membuat kita semakin memahami? Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika kita melihat bagaimana masyarakat berinteraksi dengan informasi hari ini. Seseorang dapat membaca sebuah berita hanya dari judulnya, kemudian langsung mengambil kesimpulan. Sebuah potongan video dapat dipercaya tanpa melihat konteks keseluruhannya. Sebuah pernyataan dapat dianggap sebagai sebuah berita bohong, jika pernyataan itu tidak di sertai dengan bukti.

Persoalan literasi sebenarnya bermula ketika literasi sering kali dipahami secara sederhana sebagai kemampuan membaca dan menulis. Padahal, literasi memiliki makna yang jauh lebih luas. Literasi bukan hanya tentang kemampuan seseorang dalam mengeja kata atau memahami sebuah tulisan, tetapi juga tentang kemampuan memahami, mengolah, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara tepat. Dengan demikian, seseorang yang mampu membaca belum tentu memiliki kemampuan literasi yang baik.

Kita hidup dalam sebuah zaman ketika membaca menjadi aktivitas yang sangat mudah dilakukan. Berbagai informasi tersedia secara gratis dan cepat. Namun, kemudahan tersebut justru menghadirkan persoalan baru: information overload, atau kondisi ketika manusia menerima informasi dalam jumlah yang sangat besar hingga kesulitan menentukan mana yang penting, benar, dan relevan. Masalahnya bukan lagi apakah kita mendapatkan informasi atau tidak. Masalahnya adalah apakah kita mampu memahami informasi tersebut. Seseorang mungkin membaca sebuah berita mengenai kebijakan pemerintah. Namun, jika ia hanya membaca judul tanpa memahami latar belakang, data, konteks, serta dampak kebijakan tersebut, maka proses membaca belum menghasilkan pemahaman yang utuh. Begitu pula ketika seseorang membaca sebuah opini politik. Ia tidak cukup hanya mengetahui apa yang dikatakan oleh penulis. Ia perlu memahami argumen yang digunakan, melihat bukti yang diberikan, dan mempertanyakan apakah kesimpulan tersebut memang memiliki dasar yang kuat.

Salah satu persoalan terbesar dalam budaya informasi hari ini adalah kecenderungan manusia untuk mempercayai sesuatu yang sesuai dengan emosi dan keyakinannya.

Informasi yang membuat kita marah lebih mudah dibagikan. Informasi yang membuat kita takut lebih mudah dipercaya. Informasi yang mendukung pandangan kita lebih mudah diterima. Sebaliknya, informasi yang bertentangan dengan keyakinan kita sering kali langsung ditolak, bahkan sebelum diperiksa kebenarannya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan intelektual, tetapi juga dengan kedewasaan dalam menerima setiap informasi yang ada informasi.

img-20260828-wa0030.webp

Peningkatan literasi tentu membutuhkan peran pendidikan. Sekolah dan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk generasi yang tidak hanya mampu menghafal informasi, tetapi juga mampu mengolah dan mempertanyakannya.

Namun, pendidikan literasi tidak dapat berhenti di ruang kelas. Keluarga memiliki peran sebagai penjaga arus informasi dan perlindungan dalam hal untuk mewujudkan filter informasi sosial yang bisa menjerumuskan lingkungan keluarga dalam  berita kebohongan. Selain itu juga lingkungan sosial memiliki peran yang sangat besar sekali.

Media memiliki peran. Pemerintah memiliki peran. Dan masyarakat sendiri juga memiliki tanggung jawab. Kita tidak dapat terus-menerus meminta generasi muda untuk membaca buku jika lingkungan mereka justru membiasakan penyebaran informasi tanpa verifikasi data yang jelas, karena pada akhirnya penyebaran informasi itu akan sangat berdampak bagi lingkungan verifikasi.

Literasi mampu membuat manusia tidak sekadar membaca, tetapi juga memahami, maka membangun budaya literasi pada hakikatnya bukan hanya membangun masyarakat yang gemar membaca. Kita sedang membangun masyarakat yang tidak mudah dibohongi.

Di tulis oleh : Ficky Pratama Saragih (Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program studi Ilmu Politik, UIN Walisongo, Semarang.)

“Inside Out” Dorong Kemandirian Mitra dalam Pemberdayaan Anak Marginal di Panti Asuhan Miftahul Huda Blitar
Artikel Selanjutnya

“Inside Out” Dorong Kemandirian Mitra dalam Pemberdayaan Anak Marginal di Panti Asuhan Miftahul Huda Blitar

Kontributor: Ghefira Lia
Diterbitkan: 1 September 2026, 13:38 WIB · Diperbarui: 6 September 2026, 12:21 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

Mengapa Kita Takut Bicara di Depan Orang Banyak?

Konten dari Pengguna Opini Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:23 WIB

Bukan Cuma Soal Harga: Mengapa Mahasiswa Mulai Meninggalkan Toko Fashion Offline?

Konten dari Pengguna Opini Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:14 WIB

Angka Bisa Bicara, tetapi Manusia Harus Menjelaskannya: Peran Komunikasi dalam Keuangan

Konten dari Pengguna Opini Jumat, 16 Oktober 2026 | 16:18 WIB

Jangan Asal Ikut Tren, Berpikir Kritis Penting dalam Mengambil Keputusan Keuangan.

Konten dari Pengguna Opini Jumat, 16 Oktober 2026 | 16:15 WIB

Bebas Berbicara, Tetap Bertanggung Jawab

Konten dari Pengguna Opini Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:27 WIB

Lepas Lelah, Mulai Baru: Atmosa Hadirkan Kelas Yoga & Dance untuk Pemula

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Minggu, 11 Oktober 2026 | 14:56 WIB

Dari Kerokan ke Algoritma: Ketika Pengobatan Tradisional Bertemu Dunia Digital

Konten dari Pengguna Opini Senin, 28 September 2026 | 14:01 WIB

ILHAM 7S: Kreator Gaming Indonesia dengan Perjalanan Konsisten Membangun Komunitas Digital

Konten dari Pengguna Cerita Kamis, 24 September 2026 | 08:46 WIB

JENI NUR AINI Menuntaskan 10K Pertama di TNI Run 2026

Konten dari Pengguna Cerita Minggu, 20 September 2026 | 12:27 WIB