Senin, 7 September 2026

Ketika Politik Terlalu Ramai di Media Sosial, Apakah Rakyat Masih Menjadi Prioritas?

BAGIKAN:
Ketika Politik Terlalu Ramai di Media Sosial, Apakah Rakyat...
0
Ketika Politik Terlalu Ramai di Media Sosial, Apakah Rakyat Masih Menjadi Prioritas?
Ilustrasi masyarakat Indonesia menggunakan media sosial dengan berbagai konten politik di layar ponsel | Dok/prib

Penelitian tentang demokrasi digital di Indonesia juga menunjukkan bahwa media sosial memang memperluas partisipasi publik, tetapi pada saat yang sama membawa tantangan berupa polarisasi, disinformasi, dan fragmentasi ruang diskusi. Ketika algoritma lebih sering mempertemukan masyarakat dengan konten yang memperkuat pandangan kelompoknya sendiri, percakapan politik berisiko berubah menjadi pertarungan identitas, bukan pertukaran gagasan.

Kondisi tersebut membuat demokrasi menghadapi tantangan baru. Rakyat memang semakin mudah berbicara, tetapi belum tentu semakin mudah didengar.

Kita dapat melihat ribuan komentar memenuhi unggahan seorang pejabat. Namun pertanyaannya, berapa banyak kritik yang benar-benar dibaca? Berapa banyak keluhan masyarakat yang diterjemahkan menjadi evaluasi kebijakan? Berapa banyak suara warga yang tidak viral tetap mendapatkan perhatian?

Demokrasi tidak boleh berubah menjadi perlombaan popularitas.

Media sosial seharusnya menjadi jembatan antara pemerintah dan rakyat, bukan sekadar panggung pencitraan. Politisi dan pejabat publik perlu memahami bahwa respons cepat di kolom komentar tidak sama dengan penyelesaian masalah. Tagar dapat menghilang dalam beberapa hari, tetapi persoalan rakyat sering kali bertahan bertahun-tahun.

Di tengah ramainya politik digital, kita justru perlu kembali kepada pertanyaan paling sederhana: untuk siapa kekuasaan dijalankan?

Rakyat tidak seharusnya hanya menjadi angka dalam survei, objek kampanye, atau penonton dalam pertunjukan politik. Mereka adalah alasan utama mengapa kebijakan dibuat dan kekuasaan diberikan.

Politik boleh ramai di media sosial. Perdebatan boleh berlangsung setiap hari. Kritik juga harus tetap hidup. Tetapi semua itu harus kembali kepada satu tujuan: memastikan kehidupan rakyat menjadi lebih baik.

Penyematan Kenaikan Pangkat, Lapas Bandanaira Dorong Profesionalisme dan Kinerja Petugas
Artikel Selanjutnya

Penyematan Kenaikan Pangkat, Lapas Bandanaira Dorong Profesionalisme dan Kinerja Petugas

Artikel ini merupakan tanggung jawab kontributor dan tidak mencerminkan pandangan redaksi distrikbantennews.com.
Kontributor: Hasan Komarudin Editor: Hasan Komarudin
Diterbitkan: 7 September 2026, 13:10 WIB · Diperbarui: 7 September 2026, 13:30 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

Seompreng Harapan untuk Masa Depan Generasi Indonesia

Konten dari Pengguna Opini Minggu, 10 Mei 2026 | 09:57 WIB

Prestasi Diakui, Kesejahteraan Diabaikan: Nasib Guru Berprestasi di Negeri Sendiri

Konten dari Pengguna Opini Jumat, 8 Mei 2026 | 05:53 WIB

Antara Bahagia dan Berlebihan, Fenomena Euforia Kelulusan di Kalangan Pelajar

Konten dari Pengguna Opini Kamis, 7 Mei 2026 | 11:48 WIB

Tingginya Pengangguran di Kota Serang: Kurangnya Lapangan Kerja atau Kualitas SDM?

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Rabu, 6 Mei 2026 | 21:46 WIB

Pendidikan Harus Mengedepankan Keteladanan, Bukan Tekanan

Konten dari Pengguna Opini Selasa, 5 Mei 2026 | 14:18 WIB

Freestyle Viral Bukan Ukuran Kehebatan Anak Zaman Sekarang

Konten dari Pengguna Opini Selasa, 5 Mei 2026 | 12:08 WIB

Hari Pendidikan Nasional dan Tanggung Jawab Kita Menjaga Masa Depan Bangsa

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Sabtu, 2 Mei 2026 | 06:01 WIB

Jeritan Anak di Balik Dinding Daycare

Konten dari Pengguna Opini Selasa, 28 April 2026 | 19:18 WIB

Ikan Sapu-Sapu dan Ironi Kepedulian Manusia terhadap Alam

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Selasa, 28 April 2026 | 16:25 WIB

Saat Guru Bertarung demi Masa Depan Bangsa

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Minggu, 26 April 2026 | 14:09 WIB