Untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan, DKPP Kabupaten Serang memperkuat intervensi melalui pompanisasi. Salah satu langkah yang dilakukan yakni pengoperasian pompa pada puluhan titik yang memiliki sumber air dan memungkinkan untuk dialirkan ke lahan pertanian.
Selain itu, pemerintah juga telah mendistribusikan sekitar 600 unit pompa untuk membantu petani mendapatkan pasokan air. DKPP kembali menerima sekitar 59 unit pompa berukuran tiga inci yang dapat dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainnya sesuai kebutuhan.
Pompa tersebut tidak serta-merta ditempatkan di semua wilayah yang mengalami kekeringan. Penyalurannya tetap mempertimbangkan ketersediaan sumber air di sekitar lahan. Sebab, keberadaan pompa akan efektif apabila masih terdapat sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk mengairi persawahan.
“Kita tetap melihat ketersediaan sumber air. Jika ada sumber air, pompa diberikan agar tanaman tetap bisa terpenuhi kebutuhan airnya,” jelas Suhardjo.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk menyelamatkan tanaman yang masih memiliki peluang dipertahankan. Sebab, tidak seluruh sawah terdampak kekeringan otomatis mengalami gagal panen. Sebagian tanaman masih dapat diselamatkan apabila pasokan air segera tersedia.
DKPP juga belum dapat memastikan secara keseluruhan dampak kekeringan terhadap produksi padi pada periode Juli dan Agustus. Sebagian tanaman yang sudah memasuki masa panen masih berasal dari masa tanam Mei dan Juni sehingga belum sepenuhnya terdampak kondisi kemarau yang terjadi belakangan.
Namun demikian, pemerintah daerah mengakui bahwa kemarau panjang tetap memiliki potensi menekan capaian produksi pertanian Kabupaten Serang pada tahun ini. Karena itu, diperlukan strategi lain untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus menutup kemungkinan penurunan hasil panen akibat kekeringan.
Salah satu program yang diharapkan dapat menjadi solusi adalah Pertanian Modern Advance Agriculture Smart System (PMAS) yang merupakan program Kementerian Pertanian.