Perbandingan pun tak terhindarkan. Bagi sebagian masyarakat, kebijakan ini bukan hanya tentang motor listrik, tetapi tentang rasa keadilan.
Ketika satu sektor tampak mendapatkan perhatian dalam bentuk pengadaan yang konkret dan terlihat, sementara sektor lain masih berkutat dengan janji dan proses yang tak kunjung usai, maka muncul kesan adanya ketimpangan dalam prioritas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam kebijakan publik, persepsi memiliki peran yang sangat besar. Sebuah kebijakan yang secara teknis tepat bisa saja ditolak secara sosial jika dianggap tidak selaras dengan kondisi masyarakat.
Publik tidak hanya menilai dari sisi manfaat, tetapi juga dari konteks dan momentum. Di saat banyak pihak masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar, setiap kebijakan yang melibatkan anggaran besar akan selalu diuji secara moral.
Selain itu, komunikasi kebijakan juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Kurangnya penjelasan yang komprehensif dan mudah dipahami membuka ruang bagi spekulasi.
Informasi yang setengah matang atau tidak tersampaikan dengan baik akan dengan cepat digantikan oleh asumsi publik, yang sering kali cenderung negatif.
Dalam era digital, di mana informasi menyebar dengan sangat cepat, narasi yang tidak terkendali dapat dengan mudah membentuk opini kolektif.
Di sisi lain, tidak bisa diabaikan bahwa program MBG sendiri merupakan inisiatif besar dengan tujuan mulia, yaitu meningkatkan kualitas gizi masyarakat.