Pemangkasan 25–40 persen dapat menghasilkan efisiensi Rp10–15 triliun.
"Di luar angka-angka tersebut, persoalan utamanya adalah sifat dari ruang efisiensi yang tersisa," ujar Haidar Alwi.
Haidar Alwi, Pendiri Haidar Alwi Institute sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB. Ia menjelaskan, sebelumnya efisiensi bisa dilakukan dengan menyasar "lemak" birokrasi, namun kini sebagian lemak itu sudah hilang.
"Yang tersisa adalah otot, dan memotongnya akan terasa," tambahnya.
"Efisiensi tidak lagi sekadar soal teknis anggaran, melainkan telah berubah menjadi keputusan politik yang penuh risiko. Dalam konteks global yang tidak pasti, dengan potensi lonjakan harga energi, tekanan nilai tukar, dan kenaikan biaya utang, APBN membutuhkan bantalan fiskal. Namun bantalan itu tidak bisa lagi dicari dengan cara lama," pungkas Haidar Alwi melalui siaran persnya, Jumat, (20/3/26).
"Ruang efisiensi masih ada, tetapi tidak lagi luas, tidak lagi mudah, dan tidak lagi murah secara politik. Jika realitas ini diabaikan, maka yang terjadi bukan sekadar kesalahan perhitungan, melainkan kesalahan membaca keadaan." tutupnya.
***