"Kami sangat mengapresiasi dan menyambut baik langkah berani serta progresif ini. Penandatanganan Piagam 'Board of Peace' di Davos bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan bukti nyata adanya upaya kolektif menuju perdamaian dunia yang lebih inklusif," ujar Wilson Lalengke, Jumat, 23 Januari 2026.
Lulusan pasca sarjana bidang Global Ethics dan Applied Ethics itu menekankan bahwa peran Maroko sebagai jembatan antara dunia Arab, Afrika, dan Barat sangat krusial dalam konteks hari ini.
"Kemajuan ini memberikan harapan besar bagi penyelesaian konflik, tidak hanya di Timur Tengah, tetapi juga memberikan efek getar positif bagi upaya perdamaian di Eropa Timur, benua Afrika, hingga wilayah-wilayah lain yang masih dilanda ketegangan. Kepemimpinan Yang Mulia Raja Mohammed VI sebagai Ketua Komite Al-Quds memberikan dimensi moral dan spiritual yang kuat pada dewan perdamaian ini," tambah Wilson Lalengke.
Pembentukan Dewan Perdamaian ini muncul di tengah kebutuhan mendesak akan pendekatan non-konvensional dalam menangani ketidakstabilan global. Dengan melibatkan negara-negara seperti Indonesia dan Maroko, dewan ini membangun representasi yang kuat dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim yang moderat dan berpikiran maju.
Strategi yang diusung dalam Piagam ini mencakup Diplomasi Preventif, yang fokus pada deteksi dini potensi konflik sebelum eskalasi terjadi. Juga Kemitraan Ekonomi-Perdamaian, yang akan mengintegrasikan kemakmuran ekonomi sebagai insentif utama bagi stabilitas wilayah.
Serta, Pendekatan Multilateral Baru, yang mempertemukan kepentingan negara-negara besar dengan aktor regional kunci untuk solusi permanen.
Pengakuan terhadap kepemimpinan HM Raja Mohammed VI dalam inisiatif ini menegaskan bahwa Maroko tetap menjadi pusat gravitasi diplomasi moderasi. Keikutsertaan Maroko sebagai anggota pendiri menjamin bahwa isu-isu sensitif, termasuk status Al-Quds, akan ditangani dengan kebijaksanaan dan penghormatan terhadap hak-hak historis melalui jalur dialog yang konstruktif.
Lahirnya "Board of Peace" di Davos memberikan pesan kuat bahwa meski dunia menghadapi tantangan geopolitik yang berat, jalur komunikasi dan kolaborasi tetap terbuka lebar. Komitmen para pemimpin dunia untuk beralih dari konfrontasi menuju kerja sama strategis diharapkan mampu mengubah peta konflik global dalam dekade mendatang.