Sebagai contoh, ia menyoroti isu-isu pendidikan dan kebijakan kampus yang sering kali menjadi sorotan mahasiswa. Menurutnya, tuntutan mahasiswa akan lebih didengar jika disampaikan dengan data dan kajian akademis yang kuat.
“Misalnya, saat kita menuntut kebijakan baru di kampus, kita harus punya data tentang dampaknya. Jangan hanya berteriak tanpa solusi,” tambahnya.
Akademisi Jangan Apatis
Di sisi lain, Bodong juga mengkritik sebagian akademisi yang terlalu fokus pada riset tanpa peduli dengan realitas sosial. Menurutnya, manfaat akan diperoleh dari ilmu jika ilmu itu digunakan untuk kepentingan masyarakat.
Jika tidak, ilmu itu hanya akan menjadi teori tanpa manfaat.
“Banyak akademisi yang hanya sibuk dengan penelitian dan publikasi jurnal, tetapi tidak pernah turun ke lapangan untuk melihat kondisi nyata. Padahal, ilmu seharusnya menjadi alat untuk memperbaiki keadaan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa akademisi juga memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan keadilan dan menjadi penghubung antara ilmu pengetahuan dan realitas sosial.
Mahasiswa Harus Berperan Aktif
Sebagai pemimpin mahasiswa, Bodong mengajak rekan-rekannya untuk tidak hanya fokus pada satu aspek saja, melainkan menggabungkan peran aktivis dan akademisi dalam keseharian mereka.
“Mahasiswa harus kritis dan solutif. Kita harus bisa menjadi penggerak perubahan dengan cara yang intelektual dan strategis,” tegasnya.