Ia juga menekankan pentingnya peran organisasi mahasiswa seperti IPNU dan PMII dalam membentuk karakter mahasiswa yang berwawasan luas dan peduli terhadap persoalan bangsa.
“Di IPNU dan PMII, kita belajar banyak hal, mulai dari kajian keislaman, kepemimpinan, hingga advokasi sosial. Ini membuktikan bahwa gerakan mahasiswa tidak hanya tentang aksi di jalan, tetapi juga membangun pola pikir yang kuat,” ujarnya.
Bodong menegaskan bahwa aktivis dan akademisi tidak boleh lagi saling bertentangan, tetapi harus berkolaborasi. Aktivisme tanpa akademik bisa menjadi gerakan tanpa arah, sementara akademisi tanpa aksi sosial bisa kehilangan makna.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita berkontribusi dengan cara kita masing-masing. Baik aktivis maupun akademisi, semuanya punya peran dalam membangun masa depan yang lebih baik,” tutupnya.