Lebih dari itu, persoalan ini sejatinya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi cerminan bagaimana masyarakat memandang profesi guru.
Selama guru masih dianggap sebagai profesi yang cukup dihargai dengan pujian tanpa diiringi kesejahteraan yang layak, maka perubahan akan berjalan lambat.
Diperlukan kesadaran kolektif bahwa menghargai guru tidak cukup dengan kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan yang adil dan berpihak.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para guru, tetapi juga oleh kualitas pendidikan secara keseluruhan. Guru yang terus dihimpit oleh persoalan ekonomi tentu akan kesulitan untuk memberikan performa terbaiknya dalam mendidik.
Pada akhirnya, yang dirugikan adalah generasi muda yang seharusnya mendapatkan pendidikan berkualitas dari tenaga pendidik yang sejahtera dan dihargai.
Sudah saatnya ada keberanian untuk menata ulang prioritas dalam anggaran pendidikan. Guru harus ditempatkan sebagai pusat, bukan sekadar pelengkap dalam sistem yang kompleks.
Negara tidak kekurangan anggaran, tetapi tampaknya masih perlu memperjelas keberpihakan. Sebab pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa besar anggaran yang dialokasikan, melainkan seberapa tepat anggaran tersebut menyentuh mereka yang paling berperan di dalamnya.