"Di HBP 2026 ini, kami ingin menunjukkan bahwa kami bisa berkarya dan memberikan manfaat, bukan sekadar menjalani masa pidana," tutur RP.
Secara terpisah, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, memberikan apresiasi atas program pembinaan kemandirian Lapas Wahai. Ia menyebut konsistensi ini sejalan dengan tujuan utama Pemasyarakatan, yaitu reintegrasi sosial.
"Miniatur Pinisi ini bukan sekadar kerajinan, tapi simbol transformasi diri," kata Ricky.
"Ini adalah wujud Kerja Nyata yang sesungguhnya sesuai tema HBP tahun ini yakni dengan mengubah limbah menjadi karya bernilai, dan mengubah Warga Binaan menjadi manusia mandiri yang siap diterima kembali oleh masyarakat," tutup Ricky Dwi Biantoro.
***