Rumah Sakit Universitas Indonesia mengajak masyarakat, khususnya anak muda, untuk lebih peduli terhadap kesehatan ginjal. Ajakan ini disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Ginjal Sedunia pada Jumat (13/3/2026).
Peningkatan kasus penyakit ginjal kini banyak ditemukan pada usia produktif. Jika sebelumnya gangguan ginjal didominasi kelompok usia lanjut, kini pasien berusia 20-40 tahun juga banyak mengalami penurunan fungsi ginjal.
Bahkan, tidak sedikit pasien muda yang sudah membutuhkan terapi cuci darah. Dokter spesialis penyakit dalam RSUI, dr.
Anindia Larasati, Sp.PD., menjelaskan kondisi ini erat kaitannya dengan perubahan gaya hidup. Ia juga menyebut peningkatan penyakit tidak menular pada usia produktif turut memicu kondisi tersebut.
Penyakit ginjal kronis sendiri merupakan kondisi saat fungsi ginjal menurun bertahap selama lebih dari tiga bulan. Pada tahap awal, penyakit ini sering tidak menunjukkan gejala yang jelas.
Akibatnya, banyak pasien tidak menyadari kondisi yang dialaminya. Menurut Centers for Disease Control and Prevention dan National Kidney Foundation, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai.
Tanda-tanda itu meliputi mudah lelah dan muncul pembengkakan pada kaki atau wajah. Selain itu, perubahan warna atau jumlah urin juga menjadi indikasi.
Peningkatan tekanan darah serta mual yang disertai penurunan nafsu makan juga perlu diperhatikan. Ginjal memiliki peran vital dalam tubuh.
Organ ini berfungsi menyaring limbah dari darah, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, serta membantu mengontrol tekanan darah.
***