DISTRIKBANTENNEWS.COM, Jakarta - Dosen Ilmu Sosiologi Universitas Pancasila Jakarta, Adriansyah, menyoroti fenomena polarisasi opini di media sosial. Kondisi ini dinilai semakin meluas dan berpotensi berdampak nyata pada kehidupan sosial masyarakat.
Menurut Adriansyah, perdebatan yang awalnya terjadi di ruang digital kini mulai merembet ke ruang sosial sehari-hari. memengaruhi hubungan antarmasyarakat secara langsung.
Sentimen emosional yang diperkuat informasi provokatif dan belum terverifikasi menjadi salah satu faktor utama. Situasi ini memperparah kondisi polarisasi di tengah masyarakat.
Informasi yang menyebar cepat di media sosial kerap memicu respons emosional. Akibatnya, jarak antar kelompok dengan pandangan berbeda semakin dalam.
“Perdebatan-perdebatan di ruang publik sering memicu perpecahan, memecah-belah antarkeluarga, pertemanan, bahkan kelompok masyarakat,” ujar Adriansyah.
Adriansyah menjelaskan, provokasi di era modern tidak selalu muncul secara spontan. Dalam beberapa kasus, provokasi justru dirancang sistematis melalui penyebaran informasi yang sengaja diarahkan.
Informasi tersebut bertujuan menimbulkan konflik atau memperuncing perbedaan pandangan di masyarakat. Ia mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam berkomunikasi di media sosial agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi konflik yang merusak hubungan sosial.
“Maka dari itu, penting untuk beretika di media sosial. Jangan sampai memberikan konten/argumen di media yang soal yang memprovokasi masyarakat hingga membuat ketegangan di akar rumput semakin kuat,” tutup Adriansyah.
***