Kamis, 15 Oktober 2026

Siswa Kelas V dan VI MIS Ar-Raudhotun Nur Ikuti Survei KBC, Suarakan Pengalaman Belajar di Madrasah

Pamalayan Kelurahan/Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat
BAGIKAN:
Siswa Kelas V dan VI MIS Ar-Raudhotun Nur Ikuti Survei KBC,...
0
Siswa Kelas V dan VI MIS Ar-Raudhotun Nur Ikuti Survei KBC, Suarakan Pengalaman Belajar di Madrasah
Nugi Nugraha, Siswa Kelas VI melakukan survei KBC. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Garut, 14 Oktober 2026 — Sejumlah peserta didik kelas V dan VI MIS Ar-Raudhotun Nur, Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, mengikuti Survei Sahabat KBC Batch 1 sebagai bagian dari Monitoring Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Keterlibatan siswa sebagai perwakilan peserta didik menjadi langkah penting untuk memperoleh gambaran mengenai pelaksanaan pendidikan di madrasah, khususnya terkait perilaku guru dan kepala madrasah serta kenyamanan siswa selama mengikuti proses pembelajaran.

Dalam pelaksanaannya, siswa diminta menjawab sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman mereka selama berada di lingkungan madrasah. Sebagian besar pertanyaan menyentuh aspek interaksi antara guru dan peserta didik, perilaku kepala madrasah, serta suasana belajar yang dirasakan siswa. Melalui pertanyaan tersebut, survei diharapkan dapat memberikan ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan pengalaman secara jujur berdasarkan apa yang mereka alami dalam kegiatan pendidikan sehari-hari.

Keterlibatan siswa kelas V dan VI memiliki arti penting karena peserta didik merupakan pihak yang merasakan langsung suasana pembelajaran dan interaksi di madrasah. Pengalaman mereka dapat menjadi salah satu sumber informasi dalam melihat sejauh mana nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta diterapkan dalam kehidupan pendidikan. Dengan mendengarkan suara siswa, evaluasi tidak hanya bertumpu pada pandangan orang dewasa, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman anak sebagai bagian penting dari ekosistem madrasah.

Nugi Nugraha, salah seorang siswa kelas VI MIS Ar-Raudhotun Nur, menyampaikan bahwa survei tersebut memberinya kesempatan untuk mengutarakan pengalaman dan keadaan yang sebenarnya dirasakan selama mengikuti pembelajaran. Menurut Nugi, pertanyaan yang diberikan membantunya menyampaikan pendapat mengenai kondisi belajar di madrasah melalui jawaban yang sesuai dengan pengalamannya sendiri. “Melalui survei ini, saya bisa menyampaikan apa yang benar-benar saya alami selama belajar di madrasah. Saya berusaha menjawab setiap pertanyaan sesuai dengan pengalaman saya, baik mengenai perilaku guru maupun kenyamanan ketika mengikuti pembelajaran,” ungkap Nugi.

Insan Faisal Ibrahim, S.Pd., Gr., selaku guru kelas VI yang mendampingi proses pengisian survei, menegaskan bahwa kejujuran peserta didik merupakan hal utama dalam pelaksanaan monitoring. Pendampingan dilakukan agar siswa memahami cara mengisi survei, tanpa mengarahkan jawaban atau memengaruhi pendapat mereka. Setiap siswa perlu diberikan kesempatan untuk menjawab berdasarkan pengalaman masing-masing, sehingga hasil yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi secara lebih objektif. “Setiap pertanyaan harus dijawab sesuai dengan apa yang benar-benar dialami siswa. Tidak boleh ada intimidasi, tekanan, ataupun arahan dari guru yang membuat siswa merasa harus memberikan jawaban tertentu. Mereka harus merasa aman dan bebas menyampaikan pengalaman sesuai dengan kenyataan,” tegas Insan.

Menurut Insan, kebebasan siswa dalam menyampaikan pengalaman merupakan bagian penting untuk menjaga kualitas hasil survei. Apabila peserta didik merasa takut, tertekan, atau khawatir terhadap konsekuensi dari jawaban yang diberikan, hasil survei berpotensi tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Oleh karena itu, suasana yang nyaman dan pendampingan yang netral perlu diperhatikan agar siswa dapat mengikuti kegiatan dengan tenang dan memahami bahwa jawaban mereka merupakan bagian dari proses evaluasi pendidikan.

Survei Sahabat KBC Batch 1 tidak hanya menjadi sarana pengumpulan informasi, tetapi juga membuka ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan suara mereka dalam proses peningkatan mutu madrasah. Masukan yang diberikan siswa dapat menjadi bahan refleksi bagi seluruh warga madrasah untuk meninjau kembali pola komunikasi, pendekatan pembelajaran, serta hubungan antara pendidik dan peserta didik. Dengan demikian, evaluasi diharapkan mampu mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih nyaman, aman, dan menghargai setiap individu.

Kurikulum Berbasis Cinta menekankan pentingnya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan hubungan antarmanusia, kepedulian, penghormatan, dan kenyamanan dalam proses belajar. Dalam penerapannya, guru dan kepala madrasah memiliki peran penting untuk membangun komunikasi yang baik, memberikan keteladanan, serta menciptakan suasana yang membuat peserta didik merasa dihargai. Pengalaman siswa melalui survei menjadi salah satu sudut pandang yang dapat membantu madrasah memahami pelaksanaan nilai-nilai tersebut.

Melalui partisipasi perwakilan siswa kelas V dan VI, MIS Ar-Raudhotun Nur berharap pelaksanaan monitoring KBC dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi pendidikan di lingkungan madrasah. Kejujuran siswa, pendampingan yang tidak mengintervensi jawaban, serta keterbukaan seluruh warga madrasah menjadi unsur penting dalam mendukung evaluasi yang berkualitas. Hasil survei diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan untuk memperkuat praktik pendidikan yang telah berjalan baik dan memperbaiki aspek-aspek yang masih perlu ditingkatkan.

Pada akhirnya, keberhasilan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta membutuhkan keterlibatan seluruh warga madrasah, termasuk peserta didik sebagai bagian utama dari proses pendidikan. Dengan memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan pengalaman tanpa tekanan, madrasah dapat membangun budaya evaluasi yang lebih terbuka dan bertanggung jawab. Langkah ini diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan MIS Ar-Raudhotun Nur dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang humanis, nyaman, dan berorientasi pada perkembangan peserta didik secara menyeluruh.

MIS Ar-Raudhotun Nur Ikuti Survei Sahabat KBC Batch 1 untuk Evaluasi Kurikulum Berbasis Cinta
Artikel Selanjutnya

MIS Ar-Raudhotun Nur Ikuti Survei Sahabat KBC Batch 1 untuk Evaluasi Kurikulum Berbasis Cinta

Kontributor: KABAR AR-RAUDHOTUN NUR
Diterbitkan: 14 Oktober 2026, 12:03 WIB · Diperbarui: 15 Oktober 2026, 01:22 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

Menanam Cinta Al-Qur’an Sejak Dini, MIS Ar-Raudhotun Nur Perkuat Program Unggulan Tahfidz

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Rabu, 14 Oktober 2026 | 12:27 WIB

Siswa Kelas V dan VI MIS Ar-Raudhotun Nur Ikuti Survei KBC, Suarakan Pengalaman Belajar di Madrasah

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Rabu, 14 Oktober 2026 | 12:03 WIB

MIS Ar-Raudhotun Nur Ikuti Survei Sahabat KBC Batch 1 untuk Evaluasi Kurikulum Berbasis Cinta

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:51 WIB

Pengabdian Guru PAUD dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Konten dari Pengguna Opini Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:07 WIB

Mengapa AI di Kampus Tidak Harus Ditakuti, tetapi Harus Dipahami

Konten dari Pengguna Opini Kamis, 8 Oktober 2026 | 12:02 WIB

MIS Ar-Raudhotun Nur Perkuat Literasi Membaca Siswa di Perpustakaan Garut

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Rabu, 7 Oktober 2026 | 10:02 WIB

Siswa MIS Ar-Raudhotun Nur Kenal Sejarah dan Budaya Garut Lewat Kunjungan Perpustakaan

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Rabu, 7 Oktober 2026 | 09:24 WIB

Indeks Integritas Pendidikan Banten Naik, Wagub Dimyati Bidik Level Adaptif

Konten Redaksi Selasa, 6 Oktober 2026 | 19:10 WIB

Aksi Nyata GASPOL UNESA: Belajar Gradien Menggunakan Desain Rampa

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Selasa, 6 Oktober 2026 | 12:42 WIB