Banyak mahasiswa baru memilih merantau dari daerah asalnya ke kota-kota besar, bahkan ke luar negeri, demi melanjutkan pendidikan. Jarak yang jauh dari orang tua memang membuka ruang bagi mereka untuk belajar mandiri, termasuk dalam hal mengatur keuangan.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri. Selain melatih kedisiplinan, masa perantauan juga menjadi cerminan awal bagaimana seorang mahasiswa akan mengelola keuangan setelah lulus nanti. Namun, tidak sedikit yang gagal mengelola uang dengan bijak.
Berdasarkan penelitian perusahaan pengelola keuangan Higher One pada 2013, sekitar 20 persen mahasiswa baru terpaksa berpuasa karena kehabisan uang setelah membelanjakannya untuk hal-hal yang tidak diperlukan. Data ini menunjukkan rendahnya kesadaran finansial di kalangan mahasiswa.
Pengamat pendidikan menilai, kebiasaan buruk dalam mengelola keuangan sejak awal kuliah dapat berdampak panjang, termasuk memperlambat masa studi hingga meningkatkan beban ekonomi keluarga.
Berikut sejumlah kesalahan yang kerap dilakukan mahasiswa baru dalam mengatur keuangan:
Pertama, tidak membuat perencanaan keuangan. Banyak mahasiswa masih menggunakan pola pengeluaran seperti saat sekolah. Padahal, kebutuhan saat kuliah jauh lebih kompleks. Tanpa perencanaan yang jelas, pengeluaran cenderung tidak terkontrol.
Kedua, tidak memiliki tabungan cadangan. Sebagian mahasiswa menganggap uang dari orang tua sebagai pemberian tanpa tanggung jawab. Padahal, dana tersebut merupakan hasil kerja keras orang tua. Memiliki tabungan tambahan, termasuk dari pekerjaan sampingan, menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas finansial.
Ketiga, tidak memanfaatkan peluang beasiswa. Banyak mahasiswa merasa cukup setelah diterima di perguruan tinggi, sehingga tidak lagi aktif mencari beasiswa. Padahal, berbagai program beasiswa dapat membantu meringankan biaya pendidikan bahkan membuka peluang studi lanjutan.