Mei, bukan nama sebenarnya, merupakan salah satu warga binaan yang terlibat dalam proses penciptaan resep Puff Tape. Selama menjalani pembinaan di Lapas Perempuan Bandung, ia bersama rekan-rekannya terus melakukan berbagai percobaan.
“Saya dibina di Lapas Perempuan Bandung ini sudah 6 tahun, dan selama itu juga saya dan teman-teman di sini terus meramu Puff Tape sampai dapat resep yang terbaik,” ungkap Mei.
Menurut Mei, proses tersebut tidak langsung menghasilkan produk seperti yang dipasarkan saat ini.
Pada awal pengembangan, isian tape masih dicampur dengan tepung dan teksturnya belum selembut sekarang. Berbagai percobaan dilakukan hingga akhirnya tercipta isian tape dengan tekstur lebih creamy dan lumer ketika disantap.
Meski menjadi salah satu sosok di balik lahirnya resep tersebut, Mei memilih menyerahkannya untuk terus dikembangkan oleh Lapas Perempuan Bandung.
“Semoga dapat dilanjutkan teman-teman di sini saat saya pulang. Semoga menjadi salah satu amal yang dapat menghapus kesalahan masa lalu saya,” ucap perempuan berusia 40 tahun itu lirih.
Kisah tersebut menjadi bagian penting dari pembinaan warga binaan. Keahlian yang mereka kembangkan di dalam lapas diharapkan tidak berhenti ketika masa pembinaan selesai, tetapi dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan setelah kembali ke tengah masyarakat.
Perpaduan Tape, Keju dan Pastry