Tak hanya soal pengetahuan kepemiluan, Aneu juga mengingatkan generasi muda agar kritis dalam menerima informasi. Di tengah derasnya arus informasi politik, kemampuan memeriksa dan memahami informasi sebelum menyebarkannya dinilai menjadi bagian penting dari literasi demokrasi.
Pengalaman Penyelenggara Jadi Bekal Pelajar
Pesan Aneu mendapat perhatian dari para peserta forum. Sekretaris Jenderal PB PII, Atqiya Fadhil Rahman, menilai pengalaman yang dibagikan Aneu memberikan perspektif langsung mengenai tantangan dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan demokrasi.
“Teh Aneu memberikan gambaran bahwa kerja demokrasi membutuhkan proses, pengalaman dan tanggung jawab. Bagi pelajar, kesempatan berdialog langsung dengan penyelenggara pemilu seperti ini tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga,” ujar Fadhil.
Hal senada disampaikan Sekretaris Jenderal PB SEPMI, Reza Firdaus. Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi salah satu cara untuk mendekatkan pelajar dengan ruang-ruang demokrasi sekaligus memperluas wawasan kepemiluan.
“Pelajar harus memiliki kesempatan untuk belajar langsung dari orang-orang yang mengalami dan menjalankan proses demokrasi. Dari Teh Aneu, kami mendapatkan banyak perspektif bahwa kepemiluan bukan hanya tentang hari pencoblosan, tetapi tentang proses panjang yang membutuhkan pengetahuan, ketelitian dan integritas,” kata Reza.
Reza menilai pengalaman penyelenggara pemilu dapat menjadi bagian penting dalam pendidikan politik generasi muda. Dengan memahami proses kepemiluan secara lebih dekat, pelajar diharapkan memiliki bekal untuk mengambil peran dalam kehidupan demokrasi secara bertanggung jawab.
Dalam berbagai agenda KPU Jawa Barat, Aneu juga tercatat terlibat dalam penguatan tata kelola hukum dan pengawasan, termasuk optimalisasi JDIH, pengawasan internal, pembangunan zona integritas, serta evaluasi penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada.