Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan
Evaluasi Program MIRUN, MIS Ar-Raudhotun Nur Bangun Kesadaran Siswa Peduli Lingkungan
Evaluasi Program MIRUN oleh Kepala Madrasah. Sumber: Dokumentasi Guru)
Garut, 21 September 2026 — MIS Ar-Raudhotun Nur terus memperkuat komitmen dalam membangun budaya peduli lingkungan melalui Program MIRUN atau Miceun Runtah. Program yang telah berjalan selama beberapa minggu tersebut kini memasuki tahap evaluasi untuk melihat sejauh mana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari siswa di lingkungan madrasah. Evaluasi dipimpin langsung oleh Kepala MIS Ar-Raudhotun Nur, Mutiara Selandiana Effendi, S.Pd., Gr., bersama para guru. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memastikan Program MIRUN tidak hanya menjadi sebuah program kebersihan, tetapi mampu membentuk kesadaran dan kebiasaan positif dalam diri peserta didik.
Program MIRUN merupakan gerakan yang mengajak seluruh warga madrasah untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Siswa diarahkan untuk tidak membuang sampah sembarangan serta mulai memahami perbedaan antara sampah organik dan sampah yang dapat didaur ulang. Melalui kebiasaan sederhana tersebut, madrasah berupaya membangun lingkungan yang lebih bersih sekaligus menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan. Program ini tidak hanya berorientasi pada kondisi fisik lingkungan madrasah, tetapi juga diarahkan pada perubahan pola pikir siswa agar memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama.
Dalam kegiatan evaluasi, Mutiara Selandiana Effendi menyampaikan bahwa keberadaan Program MIRUN tidak semata-mata bertujuan membuat lingkungan madrasah terlihat bersih. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah membangun kesadaran siswa mengenai dampak yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan membuang sampah sembarangan. “Program MIRUN ini semata-mata bukan hanya untuk menjaga lingkungan madrasah tetap bersih. Lebih dari itu, kami ingin menyadarkan setiap siswa bahwa ada dampak besar ketika kita membuang sampah sembarangan,” ungkap Mutiara.
Mutiara menambahkan bahwa madrasah harus menjadi tempat yang nyaman untuk belajar sekaligus ruang pendidikan karakter bagi peserta didik. Karena itu, kebiasaan membuang sampah sembarangan perlu secara perlahan diubah melalui pembiasaan dan pendampingan. “Madrasah bukan ruang untuk membuang sampah. Madrasah adalah tempat kita belajar, tumbuh, dan membangun kebiasaan baik. Ketika siswa mampu menjaga kebersihan lingkungan madrasah, sebenarnya mereka juga sedang belajar menjaga lingkungan di luar madrasah,” tegasnya.
Selama beberapa minggu pelaksanaan Program MIRUN, pihak madrasah mulai melihat adanya perubahan pada perilaku sebagian besar siswa. Anak-anak mulai lebih memperhatikan keberadaan sampah di lingkungan sekitar dan berusaha membuangnya pada tempat yang telah disediakan. Beberapa siswa juga mulai menunjukkan kepedulian dengan mengingatkan teman ketika menemukan sampah yang tidak berada pada tempatnya. Perubahan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pembiasaan yang dilakukan secara konsisten mulai memberikan dampak terhadap kesadaran siswa.
Meskipun demikian, penerapan Program MIRUN masih menghadapi sejumlah tantangan. Pihak madrasah menemukan bahwa masih terdapat beberapa siswa yang belum mampu menerapkan kebiasaan tersebut secara konsisten. Ada siswa yang masih lupa membuang sampah pada tempatnya atau belum memahami sepenuhnya pentingnya memilah dan mengelola sampah. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam evaluasi agar program dapat terus diperbaiki dan disesuaikan dengan kondisi peserta didik.
Mutiara menjelaskan bahwa proses membangun kebiasaan membutuhkan waktu dan tidak dapat dilakukan hanya melalui satu atau dua kali kegiatan. Oleh karena itu, evaluasi dilakukan untuk mengetahui bagian-bagian yang perlu diperkuat, baik melalui pengawasan, pembiasaan, maupun pemberian pemahaman kepada siswa. “Kami menyadari bahwa tidak semua siswa langsung mampu menerapkan MIRUN dengan baik. Karena itu, evaluasi ini penting agar kita mengetahui apa yang masih menjadi kendala dan bagaimana cara memperbaikinya. Harapannya, ke depan program ini dapat berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan,” jelasnya.
Evaluasi Program MIRUN juga menjadi ruang bagi para guru untuk melihat kembali strategi pembiasaan yang telah dilakukan. Guru memiliki peran penting dalam memberikan contoh secara langsung kepada siswa. Keteladanan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun budaya kebersihan di madrasah. Ketika guru ikut menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya, serta mengingatkan siswa dengan cara yang edukatif, peserta didik akan mendapatkan contoh nyata mengenai perilaku yang diharapkan.
Selain membangun lingkungan yang bersih, Program MIRUN juga diarahkan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian sosial. Sampah yang dihasilkan setiap hari tidak hanya menjadi persoalan individu, tetapi dapat berdampak kepada lingkungan secara keseluruhan apabila tidak dikelola dengan baik. Melalui kegiatan sederhana seperti membuang dan memilah sampah, siswa belajar bahwa tindakan kecil yang dilakukan secara bersama-sama dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi lingkungan.
Program MIRUN juga menjadi salah satu bentuk implementasi nilai-nilai Panca Cinta yang menjadi bagian dari arah penguatan karakter di lingkungan madrasah. Nilai kepedulian terhadap lingkungan dapat ditanamkan melalui kebiasaan nyata yang dekat dengan kehidupan siswa. Dengan demikian, Panca Cinta tidak berhenti sebagai konsep yang disampaikan dalam pembelajaran, tetapi diterjemahkan dalam tindakan dan pembiasaan yang dilakukan setiap hari.
Ke depan, MIS Ar-Raudhotun Nur berkomitmen untuk terus melanjutkan Program MIRUN dengan melakukan pendampingan dan evaluasi secara berkelanjutan. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari seberapa bersih halaman dan ruang madrasah, tetapi juga dari sejauh mana kesadaran siswa tumbuh dan menjadi kebiasaan. Madrasah berharap seluruh warga madrasah dapat mengambil bagian dalam gerakan tersebut sehingga budaya peduli lingkungan dapat tumbuh secara bersama-sama.
Melalui Program MIRUN, MIS Ar-Raudhotun Nur berupaya menanamkan pemahaman bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tugas petugas kebersihan maupun guru, melainkan tanggung jawab seluruh warga madrasah. Dari kebiasaan sederhana untuk tidak membuang sampah sembarangan, siswa diajak memahami bahwa setiap tindakan memiliki dampak. Dengan evaluasi yang dilakukan secara rutin dan dukungan seluruh warga madrasah, MIRUN diharapkan mampu berkembang menjadi budaya positif yang melekat dalam kehidupan siswa, baik selama berada di madrasah maupun ketika mereka berada di tengah keluarga dan masyarakat.
Kontributor: KABAR AR-RAUDHOTUN NUR
Selasa, 22 September 2026 | 01:29 WIB
Tentang Kiriman Ini
Artikel ini merupakan karya pengguna yang dikirim melalui platform Distrik Banten News dan telah melalui proses moderasi. Status Kontributor tidak menunjukkan keanggotaan Redaksi maupun kewenangan untuk mewakili Distrik Banten News.