Literasi bukan hanya soal membaca : Ketika masyarakat kehilangan kemampuan memahami
Di tengah derasnya arus informasi, membaca seharusnya menjadi salah satu kemampuan paling penting yang dimiliki manusia. Setiap hari kita berhadapan dengan berita, unggahan media sosial, artikel, video, iklan, hingga berbagai macam opini yang datang silih berganti. Informasi begitu mudah ditemukan, hanya dengan beberapa sentuhan pada layar gawai. Namun, muncul sebuah pertanyaan yang lebih penting yaitu apakah banyaknya informasi yang kita baca membuat kita semakin memahami? Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika kita melihat bagaimana masyarakat berinteraksi dengan informasi hari ini. Seseorang dapat membaca sebuah berita hanya dari judulnya, kemudian langsung mengambil kesimpulan. Sebuah potongan video dapat dipercaya tanpa melihat konteks keseluruhannya. Sebuah pernyataan dapat dianggap sebagai sebuah berita bohong, jika pernyataan itu tidak di sertai dengan bukti.
Persoalan literasi sebenarnya bermula ketika literasi sering kali dipahami secara sederhana sebagai kemampuan membaca dan menulis. Padahal, literasi memiliki makna yang jauh lebih luas. Literasi bukan hanya tentang kemampuan seseorang dalam mengeja kata atau memahami sebuah tulisan, tetapi juga tentang kemampuan memahami, mengolah, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara tepat. Dengan demikian, seseorang yang mampu membaca belum tentu memiliki kemampuan literasi yang baik.
Kita hidup dalam sebuah zaman ketika membaca menjadi aktivitas yang sangat mudah dilakukan. Berbagai informasi tersedia secara gratis dan cepat. Namun, kemudahan tersebut justru menghadirkan persoalan baru: information overload, atau kondisi ketika manusia menerima informasi dalam jumlah yang sangat besar hingga kesulitan menentukan mana yang penting, benar, dan relevan. Masalahnya bukan lagi apakah kita mendapatkan informasi atau tidak. Masalahnya adalah apakah kita mampu memahami informasi tersebut. Seseorang mungkin membaca sebuah berita mengenai kebijakan pemerintah. Namun, jika ia hanya membaca judul tanpa memahami latar belakang, data, konteks, serta dampak kebijakan tersebut, maka proses membaca belum menghasilkan pemahaman yang utuh. Begitu pula ketika seseorang membaca sebuah opini politik. Ia tidak cukup hanya mengetahui apa yang dikatakan oleh penulis. Ia perlu memahami argumen yang digunakan, melihat bukti yang diberikan, dan mempertanyakan apakah kesimpulan tersebut memang memiliki dasar yang kuat.
Salah satu persoalan terbesar dalam budaya informasi hari ini adalah kecenderungan manusia untuk mempercayai sesuatu yang sesuai dengan emosi dan keyakinannya.
Informasi yang membuat kita marah lebih mudah dibagikan. Informasi yang membuat kita takut lebih mudah dipercaya. Informasi yang mendukung pandangan kita lebih mudah diterima. Sebaliknya, informasi yang bertentangan dengan keyakinan kita sering kali langsung ditolak, bahkan sebelum diperiksa kebenarannya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan intelektual, tetapi juga dengan kedewasaan dalam menerima setiap informasi yang ada informasi.
Peningkatan literasi tentu membutuhkan peran pendidikan. Sekolah dan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk generasi yang tidak hanya mampu menghafal informasi, tetapi juga mampu mengolah dan mempertanyakannya.
Namun, pendidikan literasi tidak dapat berhenti di ruang kelas. Keluarga memiliki peran sebagai penjaga arus informasi dan perlindungan dalam hal untuk mewujudkan filter informasi sosial yang bisa menjerumuskan lingkungan keluarga dalam berita kebohongan. Selain itu juga lingkungan sosial memiliki peran yang sangat besar sekali.
Media memiliki peran. Pemerintah memiliki peran. Dan masyarakat sendiri juga memiliki tanggung jawab. Kita tidak dapat terus-menerus meminta generasi muda untuk membaca buku jika lingkungan mereka justru membiasakan penyebaran informasi tanpa verifikasi data yang jelas, karena pada akhirnya penyebaran informasi itu akan sangat berdampak bagi lingkungan verifikasi.
Literasi mampu membuat manusia tidak sekadar membaca, tetapi juga memahami, maka membangun budaya literasi pada hakikatnya bukan hanya membangun masyarakat yang gemar membaca. Kita sedang membangun masyarakat yang tidak mudah dibohongi.
Di tulis oleh : Ficky Pratama Saragih (Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program studi Ilmu Politik, UIN Walisongo, Semarang.)