Namun, kesulitan tersebut tidak membuatnya menyerah. Perlahan ia belajar, memahami materi, menyelesaikan berbagai tantangan akademik, hingga akhirnya mampu mencapai prestasi yang membanggakan.
IPK 3,98 menjadi bukti konsistensi Farhan selama menjalani pendidikan. Akan tetapi, pencapaian tersebut bukan satu-satunya hal yang membuat kisahnya menarik.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya di ITB, perjalanan Farhan justru memasuki babak baru.
Pada Juli 2026, ia memperoleh kesempatan menjadi research student di Inha University, Korea Selatan. Kesempatan tersebut membuka jalan baginya untuk mengembangkan kemampuan akademik dan pengalaman penelitian di lingkungan internasional.
Informasi mengenai perjalanan Farhan turut disampaikan dosen ITB Imam Santoso melalui akun media sosialnya. Kisah tersebut kemudian mendapat perhatian karena memperlihatkan bagaimana seorang anak dari keluarga sederhana mampu meraih prestasi akademik hingga mendapatkan kesempatan melanjutkan kiprah di luar negeri.
Bagi Farhan, keberhasilan tersebut tentu tidak hanya menjadi pencapaian pribadi. Di balik gelar dan prestasi akademiknya, terdapat perjuangan seorang ayah yang tidak lelah bekerja, doa seorang ibu, harapan seorang nenek, serta kesempatan pendidikan yang dimanfaatkan sebaik mungkin.
Kisah Farhan juga menjadi gambaran bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk mengubah masa depan. Latar belakang keluarga dan kondisi ekonomi memang dapat menjadi tantangan, tetapi bukan berarti menjadi batas bagi seseorang untuk bermimpi.
Dari perjalanan panjang sang ayah di balik kemudi truk, Farhan belajar tentang kerja keras. Dari doa ibu dan neneknya, ia mendapatkan kekuatan. Sementara dari kesempatan memperoleh KIP-K, ia mendapatkan ruang untuk membuktikan kemampuan.