Rabu, 29 Juli 2026
Login Kirim Tulisan
Konten dari Pengguna

Semangat Kebhinekaan Menggema dalam Upacara Bendera di MIS Ar-Raudhotun Nur

BAGIKAN:
Semangat Kebhinekaan Menggema dalam Upacara Bendera di MIS A...
0
Semangat Kebhinekaan Menggema dalam Upacara Bendera di MIS Ar-Raudhotun Nur
Iklan

Garut, 27 Juli 2026 – Semangat persatuan dalam keberagaman kembali digaungkan di lingkungan MIS Ar-Raudhotun Nur melalui pelaksanaan Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih yang berlangsung dengan penuh khidmat. Kegiatan rutin setiap hari Senin tersebut tidak hanya menjadi sarana menumbuhkan nasionalisme dan kedisiplinan peserta didik, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter. Pada kesempatan kali ini, Susi Nuraisyah, S.Pd.I., Gr., yang bertindak sebagai pembina upacara, menyampaikan amanat mengenai pentingnya memahami dan mengamalkan nilai-nilai kebhinekaan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan sebagai upaya menanamkan sikap saling menghormati, menghargai, serta membangun lingkungan madrasah yang aman, nyaman, dan bebas dari praktik perundungan (bullying).

Dalam amanatnya, Susi menjelaskan bahwa kebhinekaan bukan sekadar semboyan yang tertulis dalam lambang negara, melainkan nilai yang harus diwujudkan dalam perilaku setiap peserta didik. Menurutnya, Indonesia dibangun di atas keberagaman suku, budaya, bahasa, adat istiadat, dan latar belakang masyarakat yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut bukanlah alasan untuk saling merendahkan, melainkan anugerah yang harus disyukuri dan dijaga bersama.

whatsapp-image-2026-07-29-at-201449-1.webp

 Oleh karena itu, sejak usia madrasah peserta didik perlu memahami makna kebhinekaan agar mampu tumbuh menjadi generasi yang memiliki sikap toleran, menghargai perbedaan, dan mampu hidup berdampingan dengan siapa pun tanpa memandang latar belakangnya. "Anak-anak harus benar-benar memahami makna kebhinekaan, bukan hanya menghafal semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kebhinekaan mengajarkan kita untuk saling menghormati, saling menghargai, dan hidup rukun di tengah berbagai perbedaan. Di madrasah ini kalian berasal dari keluarga, karakter, dan kemampuan yang beragam, tetapi semuanya adalah saudara yang harus saling mendukung. Jangan pernah mengejek teman, merendahkan kekurangan orang lain, atau melakukan bullying dalam bentuk apa pun. Jadilah pribadi yang mampu menghargai setiap orang karena itulah cerminan pelajar Indonesia yang berkarakter," pesan Susi Nuraisyah, di hadapan seluruh peserta upacara.

Di sisi lain, Susi menegaskan bahwa nilai-nilai kebhinekaan sejalan dengan ajaran Islam yang mengajarkan umatnya untuk menjunjung tinggi sikap saling menghormati, saling menyayangi, dan menjaga persaudaraan. Ia mengingatkan bahwa ukhuwah Islamiah tidak hanya diwujudkan melalui ibadah, tetapi juga melalui perilaku sehari-hari dalam berinteraksi dengan sesama. Menghormati teman, membantu mereka yang membutuhkan, menjaga ucapan, serta menghindari tindakan yang dapat menyakiti hati orang lain merupakan bagian dari akhlak mulia yang harus dimiliki setiap muslim. Menurutnya, praktik bullying bertentangan dengan nilai-nilai Islam karena dapat melukai perasaan, menghilangkan rasa percaya diri, bahkan mengganggu perkembangan karakter peserta didik. Oleh sebab itu, membangun budaya saling menghargai merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga madrasah. "Dalam Islam, saling menghormati dan menghargai merupakan bagian penting dalam menjaga ukhuwah Islamiah. Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita untuk berakhlak mulia, menjaga lisan, serta memperlakukan orang lain dengan penuh kasih sayang. Karena itu, jangan pernah merasa lebih baik daripada teman, jangan membeda-bedakan seseorang, dan jangan melakukan tindakan yang menyakiti orang lain. Madrasah harus menjadi tempat yang menghadirkan rasa aman, persaudaraan, dan kebahagiaan bagi setiap peserta didik. Jika kita mampu menjaga kebhinekaan dan ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari, insyaallah kita akan tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, cinta tanah air, dan mampu menjaga persatuan bangsa," tutup Susi.

whatsapp-image-2026-07-29-at-201450-1.webp

Melalui amanat upacara tersebut, MIS Ar-Raudhotun Nur kembali menegaskan komitmennya dalam membangun budaya madrasah yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan, toleransi, dan saling menghormati. Penanaman semangat kebhinekaan tidak hanya menjadi bagian dari pendidikan kewarganegaraan, tetapi juga diintegrasikan dengan pendidikan karakter dan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pembiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai kegiatan madrasah, diharapkan setiap peserta didik mampu memahami bahwa keberagaman adalah kekuatan yang mempersatukan, bukan alasan untuk saling membedakan. Semangat inilah yang menjadi bekal penting bagi mereka untuk tumbuh sebagai generasi yang berkarakter, berwawasan kebangsaan, menjunjung tinggi nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin, serta mampu menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, dan bebas dari segala bentuk perundungan.

Iklan
GEMA AI Mendorong Profesionalisme Guru Madrasah dalam Memanfaatkan Kecerdasan Artifisial secara Bijak
Artikel Selanjutnya

GEMA AI Mendorong Profesionalisme Guru Madrasah dalam Memanfaatkan Kecerdasan Artifisial secara Bijak

Artikel ini merupakan tanggung jawab kontributor dan tidak mencerminkan pandangan redaksi distrikbantennews.com.
Iklan
Iklan
Kontributor: KABAR AR-RAUDHOTUN NUR
Diterbitkan: 29 Juli 2026, 21:10 WIB · Diperbarui: 29 Juli 2026, 21:29 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini