Perjalanan sejak 2016 menggambarkan transformasi Cahaya Kilauan Film dalam mengikuti perubahan industri audiovisual.
Pada periode Johan Sadeli Van Halen, fondasi perusahaan dibangun melalui produksi televisi dengan catatan sebanyak 24 judul FTV, termasuk dalam perjalanan kerja sama dengan SCTV.
Sementara pada era Rafi Rifaldi, Cahaya Kilauan Film memperluas langkah menuju produksi film dan platform digital dengan delapan karya, yakni Love Is Blind, Abhipraya, Bullying, Waktu Yang Tak Terhenti, Jodohku Bu Dosen, Sabiya, Langkah Kecil Menuju Pulih, serta Aku Harus Pulang Kemana yang dipersiapkan untuk segera hadir.
Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya Cahaya Kilauan Film untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, industri kreatif, serta perubahan cara masyarakat menikmati karya audiovisual.
Ke depan, di bawah pengelolaan Rafi Rifaldi, Cahaya Kilauan Film menyatakan akan terus membuka ruang kolaborasi, memperkuat produksi mandiri, dan mengembangkan karya-karya baru.
Bagi Cahaya Kilauan Film, perjalanan sejak 2016 bukan sekadar mengenai jumlah produksi. Setiap karya menjadi bagian dari pengalaman dan proses pembelajaran dalam mempertahankan eksistensi di tengah perubahan industri hiburan.
Dari 24 judul FTV menuju karya film digital, Cahaya Kilauan Film membawa semangat lintas generasi untuk terus berkarya dan mengambil bagian dalam perkembangan perfilman Indonesia.